Kota Batu tak pernah berhenti menceritakan kisah perihal bercocok tanam. Dengan segudang kekayaan alam yang melimpah tentu menjadi pionir irama dalam pertanian Jawa Timur. Dalam kultur geografis, Kota Batu dikelilingi oleh tiga gunung yang sudah terkenal di Indonesia yaitu Gunung Panderman (2010m), Gunung Welirang (3156m), dan Gunung Arjuno (3339m). Berkat beberapa faktor tersebut, tak heran jika masyarakat kota Batu bermatapencaharian petani.

Tentu dengan hal tersebut, mampu melahirkan beragam tradisi serta sejarah pertanian khususnya di Kota Batu. Tak hanya dilihat dari masa sekarang, namun perlu dengan runut menelusuri perkembangan industri pertanian di kota itu dari zaman ke zaman. Lantas bagaimana sejarah singkat mengenai bercocok tanam di Kota Batu? Berikut ulasannya.

Pertanian pada Zaman Pemerintahan Kanyuruhan sampai Mataram

Dikutip dari Jurnal Mahasiswa UMM, pada prasasti Kanyuruhan (760 M) yang memberitahukan bahwa pada abad VIII Malang dan sekitarnya termasuk saat ini Kota Batu masih bernaung di bawah kekuasaan Kerajaan Kanyuruhan.

Pada zaman pemerintahan Kanyuruhan sampai Mataram, masyarakat Batu bermatapencaharian petani dan komoditas utamanya yakni bercocok tanam pertanian padi. Pada prasasti Ngandat dipaparkan perkembangan Kota Batu pada zaman tersebut begitu pesat. Itu semua tidak terlepas dari suburnya tanah serta melimpahnya hasil panen pertanian. Jadi wajar apabila pada zaman tersebut Kota Batu sudah sangat terkenal dan terbilang maju.

Zaman Pemerintahan Kediri hingga Singasari

Pada masa prasasti Hantang (1035 M) yang saat itu memberikan informasi bahwa kerajaan Kediri atau Panjalu mendapatkan kemenangan atas Hemabhupati, yakni seorang penguasa yang sesungguhnya masih berkerabat dengan Raja Panjalu. Dengan begitu, Malang Raya, khususnya wilayah Timur Gunung Kawi, yang sedang berada di bawah kekuasaan Kemaharjaan Kediri dan Kekuasaan Hemabhupati menjadi Tumapel pada tahun 1135.

Pada zaman Kediri hingga Singasari kita mengenal Ken Ndok, ibu dari Ken Arok. Beliau adalah gadis yang masih bertani, meskipun mulai lahir kelompok kelompok pandai besi di Desa Sangguran yang kini disebut Songgokerto. Di mana masyarakat lebih tertarik bermatapencaharian sebagai petani juga.

Zaman Pemerintahan Majapahit

Menurut Negarakertagama atau disebut juga dengan istilah Kakawin Desawarnana mengatakan bahwa Desa Batu dan Desa Batan adalah desa yang dimiliki oleh Wangsa Wisnu seorang raja dari Kerajaan Majapahit. Kala itu, Kota Batu sering menjadi tempat peristirahatan bagi seluruh keluarga Majapahit, sejak zaman Raja Hayam Wuruk. Hal tersebut dikarenakan paronama alam Kota Batu yang melimpah, udara yang sejuk, serta pegunungan yang sangat memanjakan mata. Tak lupa, kekayaan hasil kebun yang membuat para keluarga Majapahit merasa terpenuhi kebutuhan pangannya. Pada masa ini, lumbung bahan pokok begitu melimpah dan berbagai macam hasil pertanian melebihi kapasitas, sehingga dikirim ke daerah sekitar kerajaan Majapahit.

Zaman Kolonial Belanda

Pada abad ke-18 Jawa mulai dikenal sebagai daerah agraris, itu semua tidak terlepas dari peran VOC yang dikepalai oleh Van den Bosch di mana pada saat itu terjadi  tanam paksa, yang membuat pembabatan hutan secara besar-besaran. Pelaksanaannya sendiri dimulai tahun 1980 yang memuat ketentuan-ketentuan khusus mengenai petani di Jawa, terutama di Kota Batu. Namun pada saat itu, memang masih banyak pelanggaran-pelanggaran di dalamnya.

Pada masa Kolonial Belanda, VOC memfokuskan perkebunannya di sekitar sumber Brantas, sebab daerah tersebut merupakan kawasan hutan dengan sumber air melimpah. Bila kita membaca artikel dari dibalikbatu.com, di sana dijelaskan daerah Bumiaji menjadi tempat utama perkebunan kopi. Kebun kopi pada zaman tersebut mengalami perluasan lahan yang begitu luas setelah pemberlakuan sistem tanam paksa. Gagasan tersebut membuat kopi di Kota Batu diekspor ke Belanda oleh VOC.

Pada tahun 1925, petani mulai melirik jeruk terutama di daerah Punten yang sukses menjadi pemasok bibit jeruk di Kota Batu. Lalu pada tahun 1930-an, masyarakat Kota Batu mulai tertarik memberdayakan buah apel.

Zaman Kemerdekaan hingga Sekarang

Setelah melewati masa penjajahan yang begitu rumit, kini petani Kota Batu bisa dengan merdeka menanam dan memanen apapun. Namun bila ditelisik lebih dalam, pertanian di Kota Batu condong ke arah pertanian holtikultura yakni berupa sayur-mayur dan tanaman hias. Terutama buah apel yang begitu ikonik di Kota Batu pada masa itu, sehingga menjadi maskot Kota Batu. Data dari Dinas Pertanian Kota Batu menunjukkan total produksi sayuran Kota Batu di tahun 2018 melebihi dari target yang telah ditentukan yaitu sebesar 61.245,90 ton dari target 59.748,89 ton, serta kopi yang mencapai 140,39 ton.

Selain itu, kini pertanian di Kota Batu mulai kreatif dengan mencampuri bumbu-bumbu pariwisata, agar para wisatawan juga makin tertarik dengan budaya cocok tanam yang ditawarkan. Sebagai kawasan agrowisata, agar Kota Batu makin dilirik wisatawan, ada beberapa sektor yang juga perlu dikembangkan lebih lagi, tidak hanya pariwisata saja, namun Kota Batu harus bersinergi dengan sektor pertanian dan sektor usaha kecil.

Seperti yang dituturkan oleh Punjul Santoso, Wakil Wali Kota Batu kepada Malang Post,  kebijakan pembangunan adalah untuk memperkuat agrowisata. Di bidang pertanian harus bersinergi dengan  pariwisata lengkap dengan instrumen kebijakan agar semakin maju dan berkembang sesuai zaman modern saat ini. Contohnya rancangan peraturan daerah bangunan gedung, UMKM, peningkatan akses jalan, peningkatan SDM, dan pendidikan. Semuanya terus diupayakan oleh Pemkot Batu.

Pertanian Kota Batu memang tidak perlu diragukan lagi. Menyandang sebagai kota agropolitan yang kaya akan pertanian holtikultura membuat Kota Batu layak menjadi sumber pangan nomor satu untuk bangsa, serta anak cucu. Sehingga, untuk terus mencapai pertanian yang jaya, Kota Batu membutuhkan generasi baru yang handal sebagai produsen pangan ataupun konsumen agrowisata yang sepanjang masa. Yuk dukung terus petani-petani Kota Batu untuk tetap semangat membangkitkan kawasan agrowisata!

Oleh Rosihan A.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: pixabay.com

Leave a Reply