Siapa bilang perempuan tidak bisa menjadi sosok yang dihandalkan? Jangan salah. Kita patut melirik perempuan kartini kita, yaitu sosok berdarah Jepara, RA Kartini. Perlu diketahui, isu gerakan dan ideologi feminisme atau gerakan emansipasi perempuan seperti yang digaungkan Kartini kita telah berkembang sejak abad ke-21. Peran perempuan dalam abad ke-21 mulai menonjol, karena pada abad ini perempuan mulai mengambil peran pada kehidupan berkeluarga. Di Indonesia, ditandai dengan adanya sosok Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita saat itu dengan mendirikan suatu lembaga pendidikan. “Habis Gelap Terbitlah Terang,” itulah buku yang dibuat oleh Kartini yang berisi kumpulan surat kepada Nyonya Abendon perihal kehidupan sulit yang akan menjadi masa-masa membahagiakan.

Gerakan emansipasi perempuan bisa kita lihat peran perempuan dalam dunia perpolitikan, misalnya. Dalam dua dekade terakhir dihitung sejak 2019, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyebutkan bahwa tren jumlah perempuan yang menempati kursi DPR terus meningkat. Pemilihan DPR pada tahun 2019, sebanyak 118 kursi atau 21 persen dari total 575 kursi di DPR diisi oleh perempuan. Jumlah tersebut meningkat 22 persen dari pemilu sebelumnya yang hanya mengisi sebanyak 97 kursi. Hal ini tentu menjadi menjadi langkah positif perempuan untuk menempati posisi legislatif. Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini berharap perempuan dapat mencapai posisi strategis di suatu parlemen.

 

“Mengutamakan keterwakilan perempuan di pimpinan dan alat kelengkapan MPR, DPR, DPD, dan DPRD adalah tantangan berikut yang sudah ada di depan mata,” tutur Titi, kepada Tirto.id, (8/9/2019).

 

Sangat menarik jika melihat emansipasi perempuan di Indonesia. Ada Susi Pudjiastuti, Khofifah Indar, Siti Nurbaya, Gusti Ayu Bintang, dan lain-lain. Salah satunya di Kota Batu, ada sosok wanita cantik, anggun, dan berkharisma, yaitu Dewanti Rumpoko, Wali Kota Batu 2017-2022. Ia resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, yatu Soekarwo di Gedung Negara Grahadi. Dewanti lahir di Mataram pada tanggal 13 Desember 1962. Ia memiliki tiga orang anak dan pernah menjadi dosen Fakultas Psikologi di Universitas Merdeka Malang. Setelah resmi dilantik sebagai Wali Kota Batu, ia mencatatkan diri sebagai walikota perempuan pertama di Kota Batu. Ia dan pasangannya, yaitu Punjul Santoso, sang wakil Wali Kota Batu yang menjabat sejak tahun 2012.

Sebelum menjadi walikota, Dewanti sudah terjun ke dunia politik dalam waktu yang cukup lama. Diawali dari menjadi bagian dari anggota DPD Partai Golkar Kota Malang. Bahkan, nama Dewanti sempat masuk dalam calon wakil Wali Kota Malang bersama Gandi Yogatama pada tahun 2003. Namun, saat itu ia gagal dalam menjadi Wakil Wali Kota Malang. Tak hanya di dunia politik, ia juga aktif di organisasi sosial. Ia dipercaya menjadi Ketua Yayasan Jantung Indonesia Malang Raya, Ketua PRSDI Malang, Ketua Forum PAUD Kota Batu, Ketua PMI, serta Pengurus Harian KONI Jawa Timur. Tak heran, ia bisa memenangkan Pilkada Kota Batu 2017.

Sosok Dewanti sebagai walikota perempuan pertama di Kota Batu menjadi idola di hati masyarakat Kota Batu. Belum ada yang mampu menyaingi keberadaan perempuan kelahiran Mataram tersebut. Hal tersebut dilansir dari hasil penelitian Litbang TIMES Indonesia yang membuktikan ppularitas nama Dewanti mampu mengalahkan banyak nama yang rencananya akan maju pada Pilkada Kota Batu 2017. Dari 15 nama yang dimasukkan ke dalam survei LTI, 93,9 persen responden mengenal sosok Dewanti dan di antara 93,9 tersebut terdapat 77,5 persen menyukai sosok Dewanti untuk menjadi Wali Kota Batu.

Diamanahi tugas untuk menjadi Wali Kota Batu membuat Dewanti menjadi sosok tegas dan totalitas. Ada pun misi yang ia canangkan untuk menciptakan Kota Batu yang sejahtera. Lima misi tersebut tergabung dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2018-2022. Misi tersebut juga diajukan kepada legiskatif diantaranya, meningkatkan stabilitas sosial politik dan kehidupan masyarakat yang harmonis demokratis religius dan berbudaya berbasis nilai-nilai kearifan lokal, meningkatkan pembangunan sumber daya manusia seutuhnya melalui aksesbilitas dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan, sosial dan pemberdayaan perempuan, mewujudkan daya saing perekonomian daerah yang progresif mandiri dan berwawasan lingkungan, meningkatkan pembangunan infrastruktur dan konektivitas daerah yang berkualitas untuk pemerataan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan, serta meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik bersih dan akuntabel.

Tak sia-sia perjuangan Dewanti, selama menjabat dua tahun menjadi wali kota saja, Kota Batu sudah mengukit beberapa penghargaan. Kehadiran Dewanti memberikan peluang Kota Batu untuk berprestasi membanggakan. Seperti pada tahun 2018, Kota Batu mampu meraih 12 penghargaan, salah satunya ada Desa Sadar Hukum 2018 oleh Menteri Hukum dan HAM. Selain itu ada pula Predikat Kepatuhan Tinggi Terhadap Standar Pelayanan Publik dari OMBUDSMAN RI, serta award Among Tani IT On Agro Aplication, dimana Kota Batu merupakan pioner dalam pemanfaatan aplikasi IT di bidang pertanian melalui program Batu Smart City. Pada tahun 2019, terhitung penghargaan Kota Batu sebanyak 22 penghargaan. Penghargaan yang didapat di antaranya ada Adipura, Anugerah Wisata Jawa Timur, Indonesia Attractiveness Award 2019, PPID Award 2019 dengan penghargaan Badan Publikk Favorit Se-Jawa Timur, dan penghargaan lainnya.

Kegigihan Dewanti dalam memimpin Kota Batu menjadikannya sebagai salah satu tokoh wanita inspiratif. Ia sempat dinobatkan menjadi Tokoh Kota Batu Inspiratif 2019 oleh TIMES Indonesia. Gaya kepemimpinannya yang modern dan modis menjadi salah satu hal yang menginspirasi banyak orang untuk meniru gaya kepala daerah yang melek digital ini. Wanita dengan tiga anak ini menjadi role model pula di kalangan mahasiswa. Ia pernah menjadi pembicara di seminar “Ngobrol Perempuan Inspiratif” yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang pada 30 April 2019. Pada kesempatan tersebut, Dewanti berpesan mahasiswa dan mahasiswi untuk bekerja keras, serius, ikhlas, cerdas, dan jangan menyerah.

Ketegasan, cekatan dalam mengambil keputusan membuat Dewanti menjadi figur perempuan yang patut diacungi jempol. Dhifa Nabila, mahasiswa asal Jakarta tersebut berpendapat bahwa sosok Dewanti sebagai pemimpin pantas dijadikan panutan. Ia sebagai gadis remaja ingin merangkul seluruh perempuan Indonesia agar bisa lebih mengembangkan diri mereka dan menjadi sosok yang bisa dihandalkan seperti halnya Dewanti Rumpoko.

 

“Menurut aku, tindakan dan pemikiran sosok Dewanti adalah buah hasil pemikiran yang kritis. Tegas dan cekatan menjadikan beliau sebagai sosok perempuan yang kuat,” ungkap Dhifa.

 

Sosok Kartini membuktikan bahwa pada setiap jiwa-jiwa perempuan, tersimpan martabat yang hebat. Sama halnya dengan sosok Dewanti Rumpoko yang berhasil menaklukkan masyarakat Kota Batu dan menjadi orang nomor satu di hati masyarakatnya. Tak hanya mereka bukti nyata kehadiran perempuan-perempuan bangsa, melainkan ada di seluruh penjuru dunia. Tidak boleh berhenti sampai disini, para perempuan hebat harus tetap mengukir prestasi, untuk mencetak para hebatnya generasi!

 

Oleh: Farhan R.

Editor: Adelia S.

Sumber Foto: jatimtimes.com

Leave a Reply