Menjadi kota dengan daya pikat apel yang unik, Kota Batu kerap kali menjadi salah satu produksi apel lokal. Kehidupan bertani, bercocok tanam, serta bersaing dengan teknologi modern dan percampuran budaya, Kota ini sering kali disebut sebagai kota agraris bin metropolis, atau biasa disingkat agropolitan. Kota Batu terkenal akan melimpahnya kekayaan hayati. Salah satunya adalah buah-buahan, terbukti dari produksi apel dan wisata petik buah yang cukup banyak. Banyaknya tanaman yang tumbuh subur, serta menumpuknya aliran air dari pegunungan dan sungai membuat banyak lahan pertanian hadir di Kota Batu.

Hampir sebagian besar penduduk Kota Batu bermata pencaharian utama sebagai petani. Hal ini terlihat dari data sementara dari hasil survei ketenagakerjaan Kota Batu yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu tahun 2011 dari 93.096 orang penduduk  Kota Batu usia 10 tahun keatas  yang bekerja di tahun 2010: 34.011 orang bekerja di sektor pertanian atau sama dengan 36,53 % penduduk Kota Batu pekerjaaan umumnya di sektor pertanian.

Dari data yang dipaparkan di atas, sangatlah wajar bila Kota Batu menjadi daerah agraris karena memang melimpahnya tanah subur yang selalu dialiri air dari pegunungan. Namun dari sekian informasi yang beredar, tentu selalu ada sejarah di dalamnya. Mengapa Kota Batu sangat dekat dengan wisata petik buah, terutama apel. Pada mulanya memang keterikatan buah apel dan Kota Malang memang sudah ada sejak zaman Belanda dulu. Tepatnya sekitar tahun 1929 orang Belanda bernama Gratel. Awalnya Gratel tengah mengembangkan tanaman jeruk keprok di Batu, namun karena banyak yang diserang penyakit, dan para petani mengalami kerugian yang cukup besar. Namun di waktu yang sama ternyata banyak tanaman apel yang tumbuh liar di daerah Batu. Udara yang sejuk dan kontur tanah yang subur, Akhirnya orang Belanda cukup serius dalam mengembangkan pertanian apel di Batu, hingga bisa memonopoli bangsa-bangsa eropa dengan komoditas apel Batu.

Hingga saat ini, Kota Batu terkenal menjadi produsen buah apel terbesar di Indonesia. Terbukti dengan data dari BPS tahun 2019 menyebutkan produksi apel Kota Batu sebanyak 54.532 ton dalan setahun, lebih banyak dari padi yang hanya 7.106 ton. Tentu dengan jumlah sebanyak itu membuat tradisi petik buah menjadi sangat bermakna serta banyak berperan penting untuk menghidupi perekonomian Kota Batu.

Dalam perkembangannya, tradisi petik buah kini menjadi komoditas parawisata yang cukup terkenal bagi kalangan wisatawan. Sebut saja Agrowisata. Agrowisata sendiri merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata.  Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, pendapatan petani dapat meningkat bersamaan dengan upaya melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal yang umumya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya.

Di Indonesia, agrowisata atau agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi,  dan hubungan usaha di bidang pertanian. Di Kota Batu sendiri yang paling terkenal adalah Kusuma Agrowisata. Berdiri sejak tahun 1991, Kusuma Agrowisata juga menjadi pionir wisata agro di Indonesia. Dengan menawarkan fasilitas hotel dan tentunya wisata petik di kebun apel, jambu merah, buah naga, jeruk, serta sayur hidroponik bebas pestisida.

Berkat adanya inovasi petik buah melalui wisata, perkembangan industri seperti ini mampu meraup dampak yang begitu signifikan di sektor ekonomi terutama ekonomi yang bergerak di pertanian. Serta dengan adanya upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Dengan hadirnya inovasi tersebut, kini budaya petik buah di Kota Batu sudah dikenal di penjuru Indonesia dan petani buah di Kota Batu mulai makmur karena adanya sinergi dari kedua bidang.

Airin Rahma Nikita, gadis asal Denpasar yang sering kali berwisata ke wisata petik buah Kota Batu berpendapat akan lebih mengasyikkan apabila sektor wisata petik buah menonjolkan edukasi pengolahan apel atau buah-buah yang lain. Misalnya, cara menanam apel yang baik hingga teknik panen yang benar. “Jadi tidak hanya petik buah saja, tetapi juga edukasi pengolahan, teknik dan lain-lain. Saya kira akan lebih menarik dan tidak membosankan,” tuturnya.

Kota Batu memang tak lekang oleh waktu. Berkat kekayaan hayati yang melimpah dibalut tradisi serta wisata, semakin bergerak untuk membuat kota dingin ini semakin maju. Tak ada Kota Batu, kalau tak ada sektor pertanian. Bukan Kota Agropolitan, kalau tak ada wisata petik buah!

 

Oleh Rosihan A.

Editor: Adelia S.

Sumber Foto:Terakota.id

Lihat Kumpulan Foto Disini

Leave a Reply