Kota Batu terdiri terdiri dari tiga kecamatan, lima kelurahan, dan 19 desa. Banyaknya desa di Kota Batu, rasanya kurang elok bila tak mengupas tuntas mengenai sejarah salah satu desa di daerah tersebut. Hm, jika berbicara mengenai desa, ini juga merupakan hal unik yang dimiliki Kota Batu. Satu desa, beribu potensi, 19 desa, jutaan potensi. Yap, benar! Kota Batu adalah kota yang memiliki banyak desa dengan potensi dan kekayaan sumber daya yang melimpah. Terkadang, desa tersebut dapat menjadi tombak perekonomian masyarakat, selain pariwisata. Hal ini membuat Kota Batu justru semakin dikenal penjuru negeri.

Salah satu desa yang mampu menarik perhatian adalah Desa Torongrejo. Terletak di timur laut Alun-alun Kota Batu, Desa Torongrejo memiliki segelintir sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sejarah mengenai kebiasaan masyarakat masa lampau di daerah tersebut memang begitu rumit dikumpulkan sebab minimnya data primer ataupun sekunder. Namun, berhasil kami rangkum melalui sumber data sekunder milik desa pada artikel internet.

Pada mulanya, Desa Torongrejo sudah diketahui sejak zaman prasejarah, hal ini ditelusuri oleh temuan berupa artefak  dari penelitian para ahli sejarah yang menguak tentang peradaban Desa Torongrejo. Temuan data primer berupa artefak megalitik berjenis punden berundak yang terletak di Dusun Tutup (Krajan) atau masyarakat sekitar lebih mengenal dengan sebutan punden Mbah Ganden (Tunggul Wulung).

Artefak punden berundak yang berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang, hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat sebagai upacara adat desa, khususnya ketika berlangsungnya tradisi bersih desa. Di lokasi yang berbeda, perbatasan antara Desa Torongrejo dengan Desa Beji terdapat sebuah lumpang batu, masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Lumpang Keteng. Lumpang Keteng tersebut berdiameter 120 sentimeter dan memiliki tinggi 35 sentimeter. Benda tersebut merupakan benda peninggalan Zaman Megalitikum. Menurut para sejarawan, mengatakan bahwa fungsi dari Lumpang Keteng adalah sebagai penghancur biji-bijian agar halus. Selain itu juga digunakan untuk acara religi sebagai upacara kesuburan tanah dan tanaman pada masa Hindu-Buddha yang dikenal sebagai upacara Dewi Sri.

Ketika zaman kerajaan Hindu-Buddha, Desa Torongrejo adalah daerah yang begitu potensial. Dibuktikan dengan sumber sejarah yang ditemukan oleh peneliti berupa Arca berukuran besar, Ganesha berukuran kecil, dan patung lembu jantan (ada beberapa yang sudah hilang), serta ditemukannya candi di Dusun Klerek yang batu bata merahnya berserakan. Menurut keyakinan agama Hindu, Arca Ganesha, Lembu Jantan, Lingga dan Yoni adalah figur Dewa Siwa. Serta sejarah panjang yang menguak perihal Kota Batu menjadi area peribadatan agama Hindu, yang kala itu dipercayai oleh kerajaan beserta masyarakat sekitar.

Penemuan Arca Ganesha dibenarkan oleh Pemkot Batu. Pada tahun 2019, arca ini berhasil dipindahkan tangan beralih ke Pemkot Batu. Arca yang merupakan salah satu peninggalan sejarah masyarakat Desa Torongrejo, hingga kini masih menjadi jujukan masyarakat untuk memanjatkan doa, serta menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat ritual. Ditanggapi oleh Pemkot Batu, akan ada pelestarian cagar budaya agar semakin mudah untuk merawat arca tersebut.

“Setelah arca tersebut diserahkan ke Pemkot Batu ternyata masih menemukan sejumlah kesulitan, karena Pemkot Batu harus memiliki tim ahli cagar budaya yang menetapkan benda itu sebagai cagar budaya. Bukan lagi Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB),” ungkap Noerad, Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata Kota Batu, kepada Malang Times, Minggu (3/1/2019).

Dengan potensi sejarah yang besar, Desa Torongrejo menjadi tombak perekonomian masyarakat. Kini, Desa Torongrejo memiliki perkembangan yang begitu pesat, salah satunya di bidang wisata. Baru-baru ini, warga sekitar membuat sebuah wisata edukasi bertajuk Kampung Edukasi Budaya Alam dan Tradisi (Kebat). Bak paket lengkap, kampung ini tak hanya menyuguhkan keindahan alam yang berdampingan dengan Sungai Brantas saja, namun juga menyediakan edukasi budaya. Dikutip dari Radar Malang, Sunarto selaku penggagas Kampung Kebat mengatakan kalau konsep wisata Kampung Kebat adalah model tradisi yang diselingi edukasi.

“Ini konsepnya memang model tradisi, karena di sini juga dipakai untuk pertunjukan kesenian atau upacara selamatan desa,” jelasnya ketika diwawancarai oleh wartawan Radar Malang.

Sunarto juga menambahkan ia dan warga berkeinginan untuk membuat pasar seni dengan panggung di beberapa area. Kemudian, juga ingin menciptakan suasana kelompok belajar usaha untuk melatih kreasi anak dan meningkatkan potensi perekonomian warga. Di sisi lain, Koordinator Kampung Kebat, Siti Rahayu menuturkan keberadaan kampung ini dimaksudkan untuk menghargai alam dan sejarah. Menurutnya, ketika kita belajar menghargai alam, alam juga akan menghargai kita. Tak hanya itu, kampung ini juga lebih mengarah pada tradisi sebuah gubuk, dimana para wisatawan akan diajarkan mengenai cara membuat gubuk dan bahan-bahannya.

Ketika kamu memasuki area Kampung Kebat, kamu akan merasakan sensasi tempo dulu. Aksesoris dan spot foto yang disediakan kebanyakan didekor dengan pernak-pernik zaman dulu, seperti lesung, camping, bakul, bekupon, gubuk, dan lainnya.

Begitu banyak sejarah yang tersirat dalam pekembangan Desa Torongrejo membuat para warga tergerak untuk menjadikan sebuah wisata edukasi. Saat kamu punya waktu luang, bolehlah kunjungi Desa Torongrejo untuk menyambangi berbagai benda masa lalu serta refreshing ke Kampung Kebat. Sejarah memang tidak bisa dilupa dan diulang kembali. Tapi, apa salahnya kita berdamai dan berteman dengan sejarah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik lagi? Seperti masa lalu Desa Torongrejo yang melahirkan edukasi wisata Kampung Kebat.

Oleh Rosihan A.

Editor: Adelia S.

Sumber Foto: Lensa Torongrejo / Ig: @lensa_torongrejo

Leave a Reply