Segarnya susu sapi perah memang tak usah lagi diragukan. Apalagi meneguknya di terik matahari siang. Contoh susu sapi perah asli peternakan Kota Batu sendiri adalah Depot Susu Ganesha. Kamu pasti sudah tidak asing dengan depot susu ini jika sering mengunjungi Alun-alun Kota Batu. Depot Susu Ganesha yang sudah berdiri sejak 1968 ini merupakan susu murni sapi perah dan kedainya terletak di dekat Alun-alun Batu. Hm, memang selain banyak prestasi, Kota Batu juga banyak potensi. Minggu lalu, Tim Dibalikbatu mengulas potensi peternakan kelinci. Kali ini, akan mengulas mengenai susu perah sapi dan jejak ternaknya. Yuk, simak!

Selain peternakan kelinci, peternakan sapi perah di Kota Batu juga patut dilirik. Seperti yang diketahui, peternakan di Kota Batu pantas menjadi prioritas kedua setelah pertanian. Buktinya dapat dilihat dari seberapa besar jumlah populasi ternak dan depot susu di Kota Batu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Batu 2016 mengenai jumlah populasi ternak sapi perah di Kota Batu, terdapat 11.611 populasi ternak sapi perah. Di sisi lain, menurut Punjul Santoso, Wakil Wali Kota Batu,  peternakan memiliki peran yang penting sebagai penyedia pangan terutama terkait protein hewani. Selain itu, peternakan memberikan dampak positif bagi perekonomian, seperti membantu sumber pendapatan maupun kesempatan kerja untuk mengurangi tingkat kemiskinan, serta pariwisata kuliner seperti hadirnya Depot Susu Ganesha.

Potensi melahirkan prestasi dan memberikan peluang bagi membaiknya ekonomi, apalagi dengan hadirnya kemitraan Koperasi Unit Desa. Beberapa desa di Kota Batu yang memiliki potensi sapi perah mulai dijadikan sebagai kampung wisata sapi perah, seperti halnya Dusun Toyomerto di Desa Pesanggrahan.

Pada tahun 2014, Pemkot Kota Batu mencanangkan sebuah misi untuk mengembangkan desa wisata sapi perah dengan melengkapi destinasi wisata, seperti halnya kehadiran edukasi sapi perah. Dikatakan oleh Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu saat itu, bahwa jumlah sapi perah yang ada di kawasan Toyomerto lebih banyak dari jumlah penduduk setempat dan mencapai ribuan ekor. Ini tentu menjadi potensi di berbagai sektor dan tentu diperlukan adanya pengembangan wisata, baik bagi SDM maupun fasilitas yang tersedia.

Berlokasi di lereng Gunung Panderman, Dusun Toyomerto dengan udaranya yang sejuk menyimpan banyak potensi peternak yang unggul. Yatemo, Kepala Dusun Toyomerto, selaku ketua kelompok sapi perah menjelaskan mayoritas penduduk memang bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah dan petani. Dari 265 kepala keluarga yang ada, sekitar 215 keluarga di antaranya mejadi peternak sapi perah. Tentu hal ini juga menjadi tombak utama bahwa potensi peternakan sapi tidak hanya membawa kebaikan bagi wisata, tetapi bagi ekonomi, serta SDM Kota Batu yang mumpuni.

Selain Desa Toyomerto, ada pula Dusun Brau di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Pemkot Kota Batu juga mulai mengembangkan kampung wisata sapi perah di Dusun Brau pada tahun 2019. Hal ini ditunjukan dengan adanya pemasangan ikon sapi perah yang dicat warna-warni di jalan masuk Dusun Brau.

Imam Suryono, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu mengatakan pembangunan patung sapi sebagai ikon wisata Desa Brau merepresentasikan 90% masyarakatnya sebagai peternak sapi perah dan petani. Ia juga menuturkan kepada Malang Post, pemilihan pengembangan wisata di Dusun Brau dikarenakan potensi dusun itu sendiri dalam menghasilkan susu sapi perah dan pertanian.

“Pengembangan Wisata Brau menjadi program pengembangan wisata desa yang akan dilakukan mulai tahun 2019 ini. Pengembangan wisata desa menyesuaikan  dengan visi Pemkot Batu ‘Desa Berdaya Kota Berjaya’,” ujar Imam kepada Malang Post (3/4/2019).

Adanya potensi peternakan sapi perah di Kota Batu yang dikelola baik oleh masyarakat serta Pemkot Batu sendiri membuahkan hasil yang baik pula. Dilansir oleh Republika, Jawa Timur menjadi sentra susu sapi perah nasional. Artikel berita yang diunggah pada 2 Juni 2016 tersebut menuturkan kondisi ini tentu berdasarkan jumlah populasi sapi perah di Jawa Timur yang mencapai 256.178 sapi perah, atau hampir menyentuh 50% dari total sapi perah nasional. Populasi sapi tersebut memberi kontribusi produksi susu segar sebanyak 1.300 ton per hari atau 55% dari total produksi susu segar nasional. Kota Batu menjadi salah satu dari tujuh besar kota penyumbang sapi perah tersebut.

Seperti yang dipaparkan di atas, selain dapat meningkatkan ekonomi, dunia wisata Kota Batu juga terbantu dengan adanya peternakan sapi. Jika kamu mengunjungi Kota Batu, maka sudah tak asing lagi dengan susu sapi perah asli Kota Batu. Hasil dari sapi perah ini mampu menarik banyak wisatawan. Misalnya sosok mahasiswa asal Blitar, Pandu Sukma Kisi Shesa, yang mengaku Kota Batu sebagai kota favoritnya. Sering kali ia mengunjungi Kota Malang dan Kota Batu jika sedang penat akan tugas kuliah. Pandu kerap kali membeli susu sapi perah di Depot Susu Ganesha, tepatnya di alun-alun.

“Saya kalau ke Batu, pasti mampir ke alun-alun, dan pasti selalu membeli susu khas Kota Batu. Rasanya khas sekali memang susu perah asli,” tuturnya.

Beribu potensi di Kota Batu kerap kali menjadi keunggulan tersendiri. Sudah sepatutnya mendapat pengelolaan yang baik dari Pemerintah Kota Batu, serta dari masyarakatnya yang gigih. Tak boleh berhenti sampai di sini, peternakan sapi Kota Batu bisa kebih berkembang lagi. Karena, di luar sana, banyak sekali wisatawan lokal pun mancanegara yang ingin merasakan nikmatnya susu sapi perah asli Kota Batu di tengah terik matahari. Kota Batu memang penuh akan potensi dan cerita. Sepertinya, Tuhan menciptakan Kota Batu ketika sedang jatuh cinta!

 

Oleh Rosihan A.

Editor: Adelia S.

Sumber Foto: pixabay.com

Leave a Reply