Berwujud ataupun tidak. Dapat disentuh ataupun semu. Dilihat atau didengar. Art comes from all kinds of form and shape. Seni datang dari berbagai bentuk dan jenis. Berbagai ragam dan ukuran. Berbagai cerita yang menyelubunginya. Berbagai pokok ide yang mengawali. Dari Si Swiss Kecil, seni datang dalam Studio Jaring.

Studio yang satu ini berbeda. Terletak di Jalan Arjuno No. 8, Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu, bangunan seperti joglo bercampur pendopo ini seakan memberi nuansa vintage bagi pengunjungnya. Walau terletak jauh dari pusat kota, Studio Jaring akan membuat perjalanan menjadi sepadan. Dengan kafe semioutdoor yang memberikan pemandangan asri pegunungan di depan studio, semakin mengundang untuk tetap tinggal dan tak kunjung pulang.

Bak lumbung di tengah pedesaan, Studio Jaring hadir menyajikan berbagai macam seni dari perupa ternama Indonesia. Dari Koeboe Sarawan, Joni Ramlan, dan Nyoman Erawan hingga Endang Lestari. Dari acrylic hingga keramik. Berbagai karya seni rupa terpampang dengan rapi dan indah di dinding Studio Jaring.

Dulunya studio ini merupakan konstruksi sebuah pasar di sebuah desa di Kota Batu. Namun, dengan jemarinya, bangunan konstruksi pasar tersebut sekarang berubah menjadi saksi bisu pameran seni di Kota Batu.

“Dulu saya ya nggak menyangka tapi saya punya mimpi untuk punya studio sendiri dan ya, inilah jadinya,” ungkap lelaki di balik Studio Jaring, dikutip dari jelajah-batu.com (28/12/2018).

Lelaki di balik Studio Jaring itu bernama Iwan Yusuf. Kata jaring diambil dari karya-karyanya dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yang bermedia jaring ikan. Kisah Iwan di atas perahu selama tiga bulan, mengutas jejaringan, berbuah menjadi bibit inspirasi dalam membangun Studio Jaring. Hal ini terproyeksi saat memasuki studio, sebuah perahu kayu menyapa pengunjung yang datang. Dinding studio pun dihiasi oleh tambang, menambah aksen di-atas-perahu-di-tengah-laut menjadi lebih nyata terhadap Studio Jaring. Lalu terdapat lukisan Marina Sang Pelukis dari Serbia yang terbuat dari (tentunya) jaring, langsung menarik pandangan setiap jiwa yang datang.

Sebanyak 20 seni rupa menghiasi dinding-dinding yang ada dalam Studio Jaring. Dikutip dari Malangpostonline.com, Elsa yang merupakan manager Studio Jaring menyatakan bahwa Studio Jaring menerima seni rupa dan lukisan dari 15 seniman berbeda yang telah melalui proses kualifikasi dan seleksi terlebih dahulu, sehingga tak semua lukisan ‘lolos’ untuk dipampang di dinding galeri studio. Puluhan karya yang dipamerkan berasal dari berbagai kota di Indonesia termasuk Yogyakarta, Mojokerto, dan dari tuan rumah sendiri, yakni Kota Batu. Studio Jaring sendiri telah merumahi pameran-pameran dengan berbagai genre atau aliran seni, mulai dari surealisme, realisme, hingga ekpresionisme.

Tak hanya sebagai galeri karya-karya para seniman dari seluruh Indonesia, di lantai dua studio ini pun menjadi saksi bisu keringat pemiliknya sendiri. Iya, di atas, Iwan merombak space yang tersedia menjadi tempatnya menumpahkan ide dan emosi ke dalam sebuah karya. Di sinilah masterpiece Iwan terbentuk.

Dikutip dari terakota.id, saat dijumpai dalam pameran September Art Month (SAM) di Studio Jaring 2018 silam, Iwan menyampaikan bahwa ia tak ingin ada kecemburuan antar kota dan seniman. Tak ada perupa dari Yogyakarta, dari Bali, dari Bandung. Yang ada hanyalah seniman Indonesia. Iwan bertekad untuk memajukan identitas seni Indonesia di kancah internasional.

“Waktunya merebut perhatian dunia,” seru Iwan dikutip dari terakota.id (12/09/2018).

Studio Jaring hadir sebagai wadah untuk para seniman unjuk rasa dengan karyanya, di mata dunia. Edgar Degas pernah mengatakan, “Art is not what you see, but what you make others see.” Saatnya kita tunjukkan jati diri dan membuat dunia melihat Indonesia melalui lensa seni khas Indonesia!

Oleh Adinda S.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: Pray for Mother by Jopram

Leave a Reply