INDEPTH, DIBALIKBATU.COM – Siapa yang tak kenal Vila Songgoriti? Perindustrian Kota Batu yang sempat menjadi trending pembicaraan mengenai penyalahgunaan vila-vila tersebut. Rumor yang beredar menyebutkan vila-vila di kawasan tersebut menjadi sarana tindak asusila bagi remaja, bahkan sebagai lahan untuk kegiatan prostitusi. Kawasan yang seharusnya digunakan sebagai hal murni pariwisata justru menjadi lahan pariwisata, sekaligus sarana tindakan asusila.

Kegiatan dan transaksi bebas yang dilakukan di kawasan vila sering kali dianggap hal yang lumrah oleh masyarakat kita. “Sebagai kebutuhan pribadi dan ekonomi,” itulah alasan yang kerap kali terdengar di masyarakat sekitar untuk mewajarkan suatu hal yang bukan seharusnya. Kali ini, Tim Dibalikbatu akan mengulas mengenai perkembangan Vila Songgoriti, pro dan kontra, serta upaya yang dilakukan. Berikut ulasannya!

Kapan Vila Songgoriti didirikan?

Kawasan Vila Songgoriti terletak di Kelurahan Songgokerto, Batu, Malang. Dalam pembagian wilayahnya, Kelurahan Songgokerto dibagi menjadi tiga wilayah lingkungan yakni Lingkungan Krajan (Klumutan), Lingkungan Tabuh, dan Lingkungan Songgoriti.

Sekitar tahun 1985, vila di Songgoriti mulai bermunculan. Itu semua tak terlepas dari pengaruh adanya Hotel Songgoriti yang menjadi ikon daerah tersebut. Dapat dikatakan, keberadaan Hotel Songgoriti menjadi sejarah awal berdirinya vila-vila tersebut. Pada tahun yang sama, jumlah vila masih di bawah 10 tempat. Namun lambat laun mulai berkembang.

 

Bagaimana perkembangan yang terjadi di Vila Songgoriti?

Berdasarkan penelitian yang bertajuk “Westernisasi di Songgoriti, Sebuah Refleksi Globalisasi” dalam Intermestik sebagai Pendekatan Studi Hubungan Internasional: Pengantar dan Contoh Penelitian, kawasan penginapan Songgoriti telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Masa itu, di kawasan Songgoriti telah dibangun beberapa vila-vila sebagai tempat penginapan, namun memang masih tak banyak. Perlahan industri penginapan ini mulai meraja lela.

Dikutip dari wawancara dengan narasumber yang merupakan mantan mucikari di Songgoriti, kegiatan prostitusi di Songgoriti mulai dapat berkembang dengan leluasa sejak 1998. Namun, setahun setelah leluasa beroperasi, seorang intel dari polisi wilayah berhasil menguak tentang prostitusi di Songgoriti. Semenjak itu, prostitusi di kawasan Songgoriti ini pun menjadi terselubung dan sembunyi-sembunyi.

Berbicara mengenai perkembangan Vila Songgoriti sebenarnnya ada banyak versi dan dapat ditinjau dari segi pembangungan industri, fasilitas, sumber daya, pariwisata, bahkan perkembangan image kawasan vila. Di Vila Songgoriti juga memiliki istilah PSK. Pada tahun 2013, sempat terjadi razia. Guna menghentikkan praktek PSK liar, Kabag Humas Polres Kota Batu, Yantofan mengungkapkan hal ini sudah diberi respons cepat dari Pemkot Batu untuk menangkap dan merazia PSK liar sebagai upaya perkembangan Vila Songgoriti ke arah lebih baik. Namun, hingga saat ini kabar razia PSK Songgoriti masih terdengar di telinga kita.

Perkembangan vila juga dapat ditinjau dari masyarakat sekitar kawasan Songgoriti. Sebelumnya masyarakat Songgoriti bermata pencaharian sebagai petani dan peternak sapi perah. Namun dikarenakan dengan menaiknya jumlah wisatawan yang datang ke Songgoriti maka banyak warga sekitar Songgoriti yang beralih profesi sebagai penyewa vila maupun homestay. Hal ini juga disebabkan alasan finasial. Masyarakat berpendapat pendirian vila di kawasan Songgoriti menjadi penghasilan tambahan dan keuntungannya cukup besar untuk menambah perekonomian.

Secara singkat, dikutip dari karya ilmiah berupa Studi Kasus di Kawasan Wisata Songgoriti Kota Batu Malang Jawa Timur, pada tahun 1985, kawasan Vila Songgoriti mulai memiliki sekitar lima sampai enam vila, kemudian berkembang pada tahun 1990 sampai berjumlah 50 vila. Masuki tahun 2000, vila yang berdiri mencapai 100 vila. Lalu 2005 sebanyak 200 vila dan di tahun 2010 kawasan Songgoriti ini mencapai hingga 324 vila.

“Setiap penduduk di daerah tersebut rata-rata memiliki rumah sewa tersebut,” papar Titut Pujiari, ketua Paguyuban Vila Supo Songgoriti yang merupakan sebuah organisasi yang mengatur segala sesuatu mengenai vila yang ada di Songgoriti.

Pada tahun 2004-2010 merupakan mas-masa yang tegang bagi pemilik vila di Songgoriti karena pada masa itulah parawisata kota Batu sedang gencar-gencarnya dibangun. Hal ini menciptakan banyaknya pesaing yang muncul. Vila-vila mulai didirikan tidak hanya di Songgoriti saja, namun juga di Selecta dan di daerah Oro-oro Ombo. Hal inilah yang memicu joki-joki vila yang tidak hanya menawarkan tempat penginapan vila saja, tetapi juga menawarkan jasa PSK kepada pengunjung vila supaya vila yang berada di Songgoriti bisa ramai dan laku lagi.

Apa dampak terbesar yang diberikan dari keberadaan Vila Songgoriti terhadap Kota Batu?

Keberadaan Vila Songgoriti cukup menjadi pilar utama kawasan Songgoriti. Perkembangan yang dilakukan secara berkelanjutan pada vila tersebut membawa dampak besar terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Dilansir dari jurnal yang ditulis oleh Windra Dini, seorang mahasiswi UM, mengenai “Dampak Sosial Ekonomi Perkembangan Vila” menyebutkan segala perkembangan vila di Songgoriti telah mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di lingkungan tersebut. Berdasarkan tingkat perekonomiannya masyarakat di kawasan wisata Songgoriti dapat digolongkan ke dalam masyarakat pra sejahtera. Pada aspek sosial, misalnya adalah adanya perubahan lapangan kerja yang dahulu identik dengan bertani, justru beralih ke pekerjaan industri urban.

Pada suatu jurnal yang ditulis oleh Esadina Indah, eksistensi pariwisata berkaitan dan bergandengan erat terhadap sosial dan ekonomi. Industri vila sebagai salah satu rumah sewa atau penginapan meningkatkan pertumbuhan dinamika ekonomi, sosial, dan pariwisata di kancah nasional dan global. Disebutkan pula, dalam menyesuaikan keadaan ekonomi, masyarakat cenderung akan beradaptasi dengan potensi yang ada seperti pada potensi di kawasan sekitar Songgoriti yakni terletak pada Vila Songgoriti. Masyarakat dapat berpartisipasi menjadi pengelola vila, pramuwisata, mendirikan warung makanan, menjadi penjual bakso keliling, hingga berjualan cinderamata atau oleh-oleh di kawasan tersebut.

Bagaimana tanggapan pro dan kontra masyarakat terhadap vila tersebut?

Berdasarkan hasil kuesioner dari penelitian Demeiati Kusumaningingrum dan Dyah Estu Kurniawati, ditemukan bahwa masyarakat sekitar kawasan Songgoriti mayoritas melumrahkan kegiatan prostitusi yang ada di sekitar mereka. Umumnya mereka berpendapat begitu dikarenakan alasan finansial, bahwa itu adalah sumber pencaharian bagi mereka.

Lain halnya dengan aparat kepolisian setempat. Mereka mendukung adanya kawasan penginapan di Songgoriti dikarenakan dengan adanya vila-vila yang berdiri akan mendukung perekonomian warga setempat juga masuk ke pendapatan daerah Kota Batu sendiri. Akan tetapi, untuk kegiatan prostitusi yang menjamur, mereka tidak mendukung. Bahkan, setiap Jumat dilaksanakan razia yang dilakukan oleh Satpol PP yang berjaga untuk mencari ‘mangsa’.

Oleh Andya Ranithanya, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya 2017, menanggapi keberadaan vila Songgoriti yang terkenal sebagai transaksi prostitusi tentunya melanggar norma dan aturan yang ada di Indonesia. Menurutnya, masih banyak bidang atau hal lain yag dapat dijadikan pemasukan warga, tidak harus melakukan hal negatif seperti transaksi prostitusi.

“Saya dengar dan baca artikel banyak yang bilang transaksi semacam itu karena ekonomi warga dan pemasukan kebutuhan. Padahal, kalau ngomongin kebutuhan, bisa didapatkan dengan banyak cara,” tutur mahasiswa yang kerap disapa Andya tersebut.

Upaya apa yang diberikan untuk menepis image negatif terhadap kawasan tersebut?

Sudah bukan rahasia umum perihal image negatif yang melekat pada Vila Songgoriti. Adanya pro dan kontra terkait pengelolaan kawasan vila, aktivitas protistusi,  berkumpulnya para Pekerja Seks Komersial (PSK), serta sering kali disebut sebagai kawasan lokalisasi. Hal ini diperkuat pada jurnal Sosio Konsepsia, yang ditulis oleh Oman Sukmana dan Rupiah Sari dengan judul “Jaringan Sosial Praktek Prostitusi Terselubung Di Kawasan Wisata Kota Batu”, terdapat jaringan praktek prostitusi terselubung pada Vila Songgoriti.

Pada tahun 2007, Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) minta Pemkot Batu segera menertibkan vila-vila liar yang ada di kawasan Songgoriti agar citra Kota Batu sebagai kota wisata tidak semakin ternodai. Kata Heru Suprapto, Ketua PHRI pada masa itu Pemkot Batu harus bertindak tegas dengan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pengoperasian vila serta penertiban perijinan sehingga pertumbuhan vila liar di Kota Batu khususnya di kawasan Songgoriti bisa terminimalisir.

Salah satu upaya menghilangkan image negatif dilakukan oleh Ketua Paguyuban Pemilik Vila Supo, Indra Tri Ariyono. Kepada Jatim Times, secara tertulis di artikel tahun 2017, Ia menjelaskan paguyuban yang membawahi 350 vila tersebut mulai menegakkan peraturan tidak memperbolehkan wanita tuna susila. Hal ini diberlakukan agar menyesuaikan lingkungan masyarakat.

“Peraturan lingkungan ini upaya memperketat. Kemudian mengawasi agar citra Songgoriti positif,” ujar pria yang juga staf di Dinas Sosial Kota Batu tersebut.

Tanpa melihat image yang tercipta dari kawasan Songgoriti, Kota Batu tetaplah istimewa. Tanpa melihat pro dan kontra, Kota Batu tetap primadona Jawa Timur juga di hati kita. Walau memang sempat menggegerkan dunia industri penginapan serta industri pariwisata, Kota Batu tetaplah Swiss Kecil yang menjadi tempat peristirahatan ratu dan raja!

Kumpulan Foto Di Sini

Diolah dan ditulis oleh Tim Dibalikbatu

Editor: Adelia S.

Sumber foto: rumahdijual.com

Leave a Reply