BATU BERAMAL. Bersih, Elok, Rapi, Aman, Manusiawi, Agrowisata dan Industri, dan Lestari, merupakan semboyan Kota Batu yang diciptakan saat meraih prestasi di bidang lingkungan pada 1993, setelah dinobatkan menjadi Kota Administratif. Sebagian wisatawan terkadang masih beranggapan bila Kota Batu merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Benarkah demikian? Jika kita menengok pada tahun 1980-an memang benar kalau dahulu Kota Batu yang lebih dikenal dengan Swiss Kecil di Jawa merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Namun sekarang jika berwisata ke Kota Batu, maka Batu tak lagi bagian dari Kabupaten Malang, melainkan sudah berdiri sendiri. Sejak kapan Kota Batu mulai berdikari? Mari kita ulas sedikit sejarah mengenai perceraian Kota Batu dengan Kabupaten Malang.

Dahulu, Kota Batu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang. Kota Batu sendiri merupakan kota yang berubah menjadi kota administratif kedua di Jawa timur setelah Kota Jember. Dalam peresmiannya dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri Rudini dan Drs. Abdul Mahmud selaku Bupati Kabupaten Malang beserta jajarannya yang mengharapkan setelah status kotanya berubah, maka Kota Batu akan menjadi pusat wisata Jawa Timur. Pelantikannya sendiri berada di kantor Pembantu Bupati Malang yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 98, Kota Batu.

Setelah terbentuknya Kota Administrasi, pelan-pelan Kota Batu mulai dilirik oleh wisatawan dengan kekayaan hayati yang begitu melimpah dan setiap sudut kota memiliki tempat wisata tersendiri. Karena melihat potensi yang ada, maka pada 11 April 1995, Bupati Malang, melayangkan surat ke Gubernur Jawa Timur perihal peningkatan status Kota Batu menjadi kota madya. Setelah adanya surat peningkatan status kota, perlahan masyarakat mulai membuka diskusi-diskusi kecil akan impiannya untuk menjadi kota madya, segala lapisan masyarakat mulai mendukung, dari lembaga sosial masyarakat hingga tokoh-tokoh masyarakat ikut tergerak untuk meningkatkan status kota. Termasuk Pembantu Gubernur Wilayah IV Malang, M. Arief Mulyadi, ikut mendukung pemisahan antara kota Batu dengan Kabupaten Malang. Hingga pada 9 Februari 1999 menjadi titik terang keberlangsungan Kota Batu, dimana DPRD Kabupaten Malang resmi mengeluarkan SK No. 4 Tahun 2000 Perihal Persetujuan Peningkatan Status Batu dari Kota Administratif menjadi Kota Madya.

Setelah melalui diskusi-diskusi panjang dari pemerintah daerah ke pusat. Akhirnya setelah sembilan tahun menjadi kota administrasi,  pada 21 Juni 2001 presiden menandatangani Undang-undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Batu. Setelah diresmikan pisah dari Kabupaten Malang pada 17 Oktober 2001, Kota Batu kini  meliputi tiga kecamatan; Junrejo, Bumiaji dan Batu, serta terdiri dari 19 desa dan kelurahan

Dikutip dari skripsi Didin Trinuria Lestari yang bertajuk Sejarah Pembentukan Pemerintah Kota Batu 2001, menunjukkan adanya lima faktor yang melatarbelakangi pembentukan Pemkot Batu. Pertama, letak strategis Kota Batu merupakan jalur penghubung antar Kota Malang, Kediri, Mojokerto, dan Jombang bahkan menjadi jalur pilihan untuk menuju kota-kota yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Kedua, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu telah memenuhi syarat sebagai Pemkot melebihi persyaratan minimal yang ditentukan.

Ketiga, perkembangan penduduk Kota Batu yang mencapai rata-rata 2,06% per tahun menyebabkan adanya tuntutan pelayanan yang lebih baik dalam bidang administrasi pemerintahan dan adanya sarana penunjang kehidupan sosial budaya seperti sarana pendidikan, transportasi, wisata, dan budaya.

Keempat, adanya usulan peningkatan status Kota Batu yang telah dimulai sejak tahun 1995, yaitu surat usulan dari Bupati Malang dan Gubernur serta pernyataan pendapat dari DPRD Kabupaten Malang tentang peningkatan status Kota Batu.

Kelima, di Kota Batu telah ada sarana dan prasarana yang mendukung keamanan dan ketertiban.

Ririn Alfiatu Rohimah, mahasiswa Universitas Islam Malang 2017 menuturkan ia sering mendengar sejarah terpisahnya Kota Batu dan Malang, walaupun ia merupakan remaja kelahiran 1999. Ingin Kota Batu dan Malang tetap bersinergi walau telah berpisah.

“Harapanku walau memang Kota Batu sudah menjadi daerah otonom, hubungan antara pengembangan wisata dan budaya dengan Malang tetap terjaga,” tutur mahasiswa asal Mojokerto tersebut.

Begitulah cerita panjang sejarah terbentuknya Kota Batu. Penuh perjuangan dan waktu yang tak singkat. Sejarah dan perjuangan yang panjang tentu akan menghasilkan buah manis bagi perkembangan Kota Batu demi masyarakat yang sejahtera. Jika memiliki waktu, main-mainlah ke Kota Batu. Kau akan lihat betapa bersinar dan sejuknya Kota Batu berkat para pahlawan yang berjuang menjadikan Kota Batu berdikari. Walau romansa Batu dan Malang telah usai, tetapi mereka tetap kawan yang selalu bergandengan tangan. Jadi, kapan mampir ke Kota Batu? Ditunggu ya!

 

Oleh Farhan R.

Editor:  Rosihan A.

Sumber foto: wikimedia

Leave a Reply