Kota Batu memiliki masyarakat mayoritas beragama Islam. Dilansir dari BPS Kota Batu, masyarakat yang menganut agama Islam berjumlah 209.479 jiwa. Tentu membuat Kota Batu sarat akan sosok penyebar agama Islam. Selain Mbah Wastu yang mulai memperkenalkan agama Islam pada tahun 1800-an, ada sosok lain yang juga sempat menyiarkan agama Islam. Ialah Mbah Mas Ayu Sinto Mataram atau lebih dikenal Mbah Masayu Mataram.

Mbah Masayu menjadi tokoh yang penting dalam penyebaran agama Islam sejak masa Kerajaan Mataram di Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Nama Mas Ayu Sinto Mataram  sendiri ternyata memiliki tiga arti dan dari tiga cerita di baliknya yang berbeda pula. Oleh Dwi Cahyono, seorang arkeolog dari Universitas Negeri Malang menyatakan bahwa nama ‘Mas Ayu’ merupakan gelar kebangsawanan.

“Gelar Masayu adalah gelar yang dikenal di lingkungan sosial Mataram. Bahkan di Banyuwangi gelar itu masih lazim digunakan,” ujar Dwi kepada Malang Post (24/05/2019).

Lalu untuk nama Sinto berasal dari nama Jawa yang sengaja diberi kepadanya. Menurut Dwi, nama Sinto adalah nama samaran yang sengaja disematkan ke sosok Mbah sebagai orang Jawa pribumi, karena pada saat itu wilayah Kota Batu sengaja dijadikan sebagai tempat pelarian setelah terjadinya pertempuran antara kerajaan Mataram dengan VOC. Mbah Masayu diperkirakan menggunakan nama Sinto untuk berbaur dengan masyarakat sekitar, sehingga tak ketahuan oleh VOC.

“Masayu Sinto Mataram sudah ada unsur nama tiga sebutan. Masayu, Sinto dan Mataram. Ini petunjuk bahwa ia sebagai eks Laskar Trunojoyo,” imbuh Dwi lagi kepada Malang Post (24/05/2019).

Dengan adanya beberapa bukti (meskipun tidak banyak) mengenai Mbah Masayu Sinto Mataram, Dwi menyimpulkan, setidaknya sosok Mbah Masayu merupakan tokoh penyebar agama Islam di kelurahan Ngaglik.

Mbah Masayu Sinto Mataram sendiri dimakamkan di salah satu bekas situs era Hindu-Buddha. Terletak di kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan agama Islam di kelurahan tersebut.

Menurut Tim Ekspedisi Panatagama Malang Post yang mendatangi punden dan makam Mbah Masayu, di sekitarnya ditemukan beberapa arca dan balok batu andesit. Hal ini semakin mempertegas bahwa lokasi yang ada di komplek makam Mbah Sinto Mataram adalah bekas bangunan Hindu-Buddha.

Sebelumnya makam tersebut adalah sebuah bangunan suci Hindu. Ini dibuktikan dengan temuan lima arca yang berdiri di daerah tersebut. Ada beberapa yang kondisinya sudah cacat, namun ada pula yang masih cukup bagus dan gagah. Termasuk arca yang berbentuk binatang seperti katak. Menurut Dwi, makam tersebut merupakan makam yang mengalami alih fungsi atau transformasi.

Ngaglik memang terkenal memiliki segudang peninggalan sejarah maupun tradisi. Selain sejarah penyebaran agama Islam lewat Mbah Mas Ayu Sinto Mataram, kelurahan ini juga  memiliki tradisi turun temurun yang dirayakan tiap tahun di makam tersebut. Tradisi itu bernama selamatan Desa Kenduri Agung Kelurahan Ngaglik. Tujuannya adalah untuk mengingatkan budaya bergotong royong. Kegiatannya antara lain adalah mengarak hasil bumi bersama-sama juga bersih desa.

“Bersih desa ini merupakan sebuah tradisi tahunan masyarakat Kelurahan Ngaglik sebagai bentuk Bulu Bekti (persembahan) dari instropeksi diri sekaligus bersih-bersih desa,” ujar Berlin, salah satu warga Ngaglik kepada Malang Post (24/05/2019).

Berlin memaparkan salah satu bentuk kegiatan bersih desa adalah dengan membersihkan Pepunden Desa Mbah Mas Ayu Sinto Mataram yang berada di depan TMP Ngaglik dan Pepunden Mbah Sri Dewi yang berada di belakang Pendopo Agung Kelurahan Ngaglik, serta membersihkan beberapa fasilitas umum yang berada di sekitar makam.

Selain mengarak hasil bumi dan bersih desa, di malam hari diadakan pegelaran wayang kulit yang bertujuan untuk merawat tradisi sekaligus sebagai ucapan rasa syukur. Apabila tak mengadakannya, konon dipercaya oleh warga sekitar akan mendapatkan malapetaka.

“Pada intinya kenduri ini untuk memohon keselamatan lahir batin dan semua yang baik-baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat Kelurahan Ngaglik,” tegas Berlin.

Bagi masyarakat Ngaglik, Mbah Mas Ayu Sinto Mataram begitu berarti. Perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Ngaglik hingga sekarang masih melekat di hati. Tradisi dan budaya yang diamalkan sebagai rasa syukur dan apresiasi tetap lestari. Semua tentu tak terlepas dari keyakinan warga Kelurahan Ngaglik ini. Semoga perjuangan Mbah Mas Ayu Sinto Mataram dapat menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dalam memperjuangkan apa yang kita yakini.

Oleh Devi N.

Editor Rosihan A.

Sumber foto: Malang Post

Leave a Reply