Terdengar mengasyikkan apabila berwisata sembari berbelanja. Mampir untuk membeli oleh-oleh misalnya, sebelum atau sesudah menuju        kawasan wisata. Pasar Wisata Songgoriti, salah satu ikon di Kawasan Wisata Songgoriti menjual berbagai macam barang yang bisa dijadikan oleh-oleh atau cinderamata. Menawarkan oleh-oleh khas Kota Batu, tak hanya apel, tetapi cobek yang memiliki kualitas mumpuni. Pasar ini juga menawarkan bunga. Jika sempat, belilah bunga dahulu untuk yang tercinta, sebelum melaju ke tempat wisata selanjutnya atau bahkan pulang ke rumah. Tak ada salahnya membeli kenang-kenangan sebelum balik ke kampung halaman.

Berbicara mengenai Pasar Wisata Songgoriti, letaknya memang sangat dekat dengan Kawasan Wisata Songgoriti, yaitu di Jalan Arumdalu, Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Sehingga, wisatawan yang datang juga memburu oleh-oleh di pasar legenda ini. Tak heran, sebagai pasar wisata, Pasar Wisata Songgoriti memang ramai akan pengunjung. Berdiri sejak lama membuat pasar wisata ini makin dikenal oleh wisatawan. Sayangnnya, baru-baru ini terdengar kabar dari penjual di Pasar Songgoriti sendiri bahwa jumlah wisatawan tak seramai dahulu.

Dilansir oleh Radarmalang.com, pada artikel yang diunggah Februari lalu, menyatakan banyaknya jumlah wisatawan di Kota Batu sepertinya tidak terlalu dirasakan oleh para pedagang di Pasar Songgoriti lagi. Di pasar wisata tersebut para pedagang merasakan kurva hasil penjualan yang menurun. Oleh Koordinator Pasar Wisata Songgoriti, Iis Yuniari mengatakan sebelum tempat wisata modern merajalela di Kota Batu, para pedagang biasanya kebanjiran wisatawan.

“Tahun 2000-an saja kami pernah mengalami kedatangan wisatawan dari jam 5 pagi,” kata wanita berusia 39 tahun tersebut kepada Radar Malang (21/02/2020). Iis mengaku pula, setiap harinya jarang ada bus wisatawan yang mampir akhir-akhir ini.

“Kecuali hari Sabtu dan Minggu, itu juga paling dalam sehari maksimal hanya ada 7 bus,” kata wanita yang sudah menjadi pedagang selama 20 tahun itu.

Kesepian akan pengunjung juga berakibat pada kehidupan pedagang dan Pasar Songgoriti sendiri. Seperti di Pasar Songgoriti memiliki jumlas los sekitar 150 dan 200 pedagang. Terkadang, ada pedagang yang memilih mengoper losnya kepada orang lain, dikarenakan tidak membuka los mereka setiap hari. Para pedagang rata-rata berjualan di hari Sabtu dan Minggu, sehingga hal ini membuat mereka tidak setiap hari membuka dagangannya. Iis sungguh berharap keramaian Pasar Songgoriti yang dulu kembali.

Jumlah pengunjung atau wisatawan Pasar Songgoriti tentu memiliki sebab. Penurunan hasil penjualan para pedagang pun juga. Salah satu faktor penyebabnya bisa kita kaji dari perilaku budaya konsumen. Para ahli, seperti Setiadi dalam suatu jurnal mahasiswa, menyebutkan perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan mengonsumsi barang. Terjadinya perubahan dalam perilaku konsumen tentu disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Kotler (2000), faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen adalah faktor kebudayaan, faktor sosial, faktor personal dan faktor psikologi.

Adanya perilaku konsumen juga dikarenakan faktor perkembangan zaman. Masyarakat sebagai pencipta dan pendukung kebudayaan sangat bertanggungjawab akan perubahan yang terjadi. Di era globalisasi ini membuat jarak lintas ruang dan waktu tiada batas. Kebutuhan masyarakat seiring waktu makin berbeda dan menyesuaikan era hidupnya. Contohnya, hadirnya gadget yang menimbulkan budaya konsumtif di masyarakat guna memenuhi kebutuhan simbol yang telah menjadi gaya hidup modern. Masyarakat tidak lagi memanfaatkan suatu produk atau barang dilihat dari kebutuhan, namun keinginan. Perubahan pola pikir masyarakat yang menjadi hedonis membuat mereka boros, karena budaya konsumtif.

Globalisasi, internet, ekonomi baru, berkembangnya teknologi komunikasi, serta pasar global yang terus berkembang membuat orang lebih memilih gaya hidup instan. Masyarakat yang hidup di era perkembangan cenderung memilih sesuatu yang lebih mudah karena kehidupan yang sudah serba canggih. Seperti membeli barang di online shop, atau bahkan fitur delivery ongkir dan pemesanan online di perusahaan perdagangan elektronik, seperti Shopee, Lazada, Bukalapak, Tokopedia, serta perusahaan lainnya. Masyarakat lebih memilih membeli di tempat yang bisa didapatkan secara cepat dan instan.

Terjadinya pemerosotan penjualan di Pasar Songgoriti yang merupakan pasar tradisional dapat disebabkan oleh perilaku budaya konsumtif yang makin menjamur di kalangan masyarakat di era serba canggih ini. Walau memiliki target yang berbeda, Pasar Wisata Songgoriti tentu membutuhkan peninjauan ulang agar tidak kalah dengan pasar modern. Hal ini dibenarkan oleh mahasiswa Universitas Ma Chung Prodi International Business Management, Marchellina Christianti.

“Perilaku konsumen itu berubah sesuai perkembangan zaman. Bisa dari gaya hidup, dan sebagainya. Maka dari itu, perlu sekali untuk memperhatikan tren pasar dan konsumen. Akan lebih baik Pasar Songgoriti juga berusaha agar dapat bersaing dengan pasar-pasar modern,” tutur mahasiswa yang biasa disapa Cellina tersebut.

Kebudayaan tidak bersifat statis melainkan dinamis. Masyarakat sebagai pencipta dan pendukung kebudayaan sangat bertanggungjawab akan perubahan yang terjadi. Walau begitu, kita tetap harus membawa perubahan baik bagi bangsa, begitu pula Pasar Wisata, Pasar Songgoriti. Jika kamu berkunjung ke daerah Batu, mampirlah ke Pasar Wisata Songgoriti. Jangan sampai Pasar Songgoriti ikut ‘punah’, ya!

Oleh Devi N.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: jejakpiknik.com

Leave a Reply