Sebelum tidur aku pengen didongeng cerita rakyat!”. Mari kita flashback sebentar. Kalimat di atas sering kali menjadi kalimat yang dilontarkan sebelum tidur. Bisa saja kepada Bunda, Ayah, Nenek, Kakek, atau bahkan Kakak. Masa kecil memang indah. Merayu dan menggoda Ibu dan Ayah agar berdongeng sebelum tidur, hingga merayu untuk memborong buku cerita legenda rakyat di toko buku dekat rumah.

Pokoknya, mau buku legenda rakyat, Ayah!” sembari memaksa.

Ingatkah kamu di masa-masa itu? Mengenal warisan budaya dan sastra daerah  melalui cara yang menyenangkan, apalagi kalau bukan dengan cara dongeng? Legenda dari daerah mana saja terasa menyenangkan dan mengasyikkan untuk didengar ataupun dibaca. Legenda Danau Toba, Legenda Cindelaras, Sangkuriang, Roro Jonggrang, Malin Kundang, Timun Mas, Lutung Kasarung, dan masih banyak lagi.

Berbicara tentang legenda rakyat, yang satu ini datang dari Jawa Timur, Kota Batu lebih tepatnya. Legenda Putri Gunung Banyak judulnya. Gunung Banyak? Warga Malang, apalagi Batu pasti sudah tak asing dengan sebutan ini. Ya, Taman Langit Gunung Banyak atau biasa dikenal dengan Paralayang, merupakan kawasan wisata yang terkenal di Kota Batu. Legenda kali ini berbeda, tidak tertulis di atas kertas sastra tetapi di panggung pagelaran. Legenda Putri Gunung Banyak sering kali tampil di pagelaran drama tari dan merupakan salah satu kesenian dan kebudayaan lokal masyarakat Kota Batu.

Winarto Ekram, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata Kota Batu menceritakan Legenda Putri Gunung Banyak tersebut saat ditemui di Pagelaran Drama Tari 2019 di Taman Mini Indonesia Indah. Awal cerita, pagelaran drama tari ini bercerita tentang sosok gadis bernama Raden Ayu Suci Kitri, sebagai Legenda Putri Gunung Banyak. Oleh Ayahnya, Mpu Supo, Sang Putri Gunung Banyak ditugaskan untuk menjaga pusaka Kerajaan Majapahit Kyai Sengkelat, Brawijaya V. Ketika menjaga pusaka kerajaan, Putri Gunung Banyak tak sendiri. Ia ditemani oleh Eyang Simo Marutho.

Kepada wartawan Malang Post, Winarto menjelaskan Raden Ayu Suci Kitri dikejar oleh Minak Jinggo, si petapa sakti berwujud manusia berkepala Harimau, ketika sedang menjaga pusaka kerajaan. Kemudiaan Eyang Simo menyelamatkan Raden Ayu dengan hujan badai. Raden Ayu kemudian berlindung dan bersembunyi di pertapaan Gunung Banyak yang disebut Watu Lawang. Letak pertapaannya di sudut barat utara Gunung Banyak. Hingga kini, dapat dikatakan ada tiga benda pusaka Kerajaan Majapahit yang tersimpan di Gunung Banyak, yaitu pusaka miliki Kyai Sengkelat, Kyai Sabuk Inten, dan Kyai Nogososro.

Legenda Putri Gunung Banyak ini pernah tampil di Pagelaran Tari 2019 di Taman Mini Indonesia dengan tema “Pagelaran Drama Tari dengan Cerita Legenda Putri Gunung Banyak”. Pagelaran tersebut merupakan pagelaran periodik tahunan. Setiap tahun, Kota Batu tidak pernah absen mempersembahkan karya-karya pagelaran seni terbaik di acara tersebut. Selain menampilkan drama tari Legenda Putri Gunung Banyak, ada pun kesenian-kesenian yang lain yang ikut tampil dalam pagelaran seni tersebut, seperti Bantengan, Kuda Lumping, juga Glendho Barong. Winarto menambahkan terkadang pagelaran tersebut menjadi ajang silahturahmi bagi masyarakat Kota Batu dan seniman-seniman Indonesia.

Dilansir dari Malang Times, pada pagelaran seni di TMII tepat dilaksanakan pada bulan Hari Kartini, April 2019. Dalam persembahan tersebut, banyak para pemain wanita yang menjadi peran dalam drama tari Legenda Putri Gunung Banyak. Hal ini dimaksudkan sebagai wujud emansipasi wanita dalam menyambut Hari Kartini. Winarto menambahkan dengan adanya pagelaran seni, diharapkan bisa mendatangkan wisatawan baru ke Kota Batu juga.

“Dengan setiap tahun kita tampil di event Pagelaran Seni pun diharapkan mendatangkan wisatawan ke Kota Batu,” imbuhnya.

Jika Indonesia adalah tanah, maka kesenian dan kebudayaan lokal adalah rumahnya. Pagelaran tari yang menampilkan Legenda Putri Gunung Banyak merupakan salah satu bukti bahwa kebudayaan lokal semenarik itu, hingga dapat menarik wisatawan baru di Kota Batu. Maka dari itu, bersahabatlah terus dengan budaya, karena budaya yang melekat ialah identitas kita di mata dunia.

 

Oleh Devi N.

Editor: Rosihan A.

Sumber Foto: sumberpengertian.id

Leave a Reply