Pasar Wisata Songgoriti. Sepertinya kamu sudah tidak asing lagi dengan pasar wisata ini. Pasar ini pernah dibahas dan diulas pada suatu artikel oleh Tim Dibalikbatu, bukankah begitu? Kalau kamu membacanya, kamu pasti tahu bahwa jumlah pengunjung pasar wisata tersebut tidak ramai lagi seperti biasanya. Hal tersebut didukung dengan suatu artikel yang diunggah oleh Radar Malang berjudul “Ingin Pasar Songgoriti Ramai Lagi” pada Februari 2020.

Dalam artikel yang diunggah oleh Radar Malang tersebut menyebutkan bahwa banyaknya jumlah wisatawan tak lagi dirasakan oleh para pedagang di Pasar Songgoriti. Para pedagang di pasar tersebut merasakan hasil penjualan yang menurun dan tidak seperti biasanya. Oleh Koordinator Pasar Wisata Songgoriti, Iis Yuniari mengatakan saat ini setiap harinya jarang ada bus wisatawan yang mampir.

”Kecuali hari Sabtu dan Minggu, itu juga paling dalam sehari maksimal hanya ada tujuh bus,” kata wanita yang sudah menjadi pedagang selama 20 tahun itu.

Hal ini juga sempat menjadi topik bahasan pada artikel Tim Dibalikbatu berjudul “Rindu Ramainya Pasar Songgoriti”.  Artikel tersebut membahas mengapa terjadi penurunan pengunjung terhadap pasar wisata ditinjau dari segi manajemen konsumen, yaitu mengenai perilaku budaya konsumen. Disebutkan pada artikel tersebut bahwa perilaku budaya konsumen berubah mengikuti zaman seiring dengan perubahan yang terjadi. Zaman yang semakin canggih dapat berdampak pula pada eksistensi pasar tradisional, seperti Pasar Wisata Songgoriti.

Namun, kali ini yang ingin diulas adalah pembangunan manajemen dan penataan ulang Pasar Songgoriti yang merupakan pasar tradisional. Kebanyakan milenial dan generasi sekarang, tak terkecuali orang tua hobi berbelanja di pasar digital dan pasar modern. Sangat diperlukan adanya penataan ulang Pasar Songgoriti terkait kebersihan, marketing, gaya atau konsep transaksi antara berdagang dan berbelanja, atau bahkan tempat yang ditata ulang agar terlihat berkembang tanpa harus menghilangkan aspek tradisionalnya.

Perlunya penataan ulang pasar wisata, serta pembangunan ke arah yang lebih modern tentu sangat diperlukan tidak hanya bagi Pasar Songgoriti saja, tetapi seluruh pasar wisata tradisional. Hal ini tentu agar pasar wisata tetap ramai dan tidak dimakan zaman yang semakin canggih. Eksistensi pasar wisata tentu harus marak pula di tengah maraknya pasar modern. Untuk itu, Pemerintah Kota Batu perlu melakukan peninjauan ulang terhadap pasar wisata agar para pedagang khususnya mereka yang menjajaki Pasar Songgoriti tidak lagi merasakan perbedaan jumlah pengunjung.

Perspektif ini tentu didukung dengan adanya pernyataan dari Harmanto (2007) pada jurnal Elni Mutmainnah dan Fithri Mufriantie dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiah Bengkulu mengenai dampak kehadiran pasar modern mall terhadap pasar tradisional. Harmanto menyatakan persaingan antar pasar modern secara teoritis menguntungkan konsumen, dan mungkin perekonomian secara keseluruhan, relatif sedikit yang diketahui mengenai dampaknya pada pasar tradisional. Mengukur dampak amat penting mengingat supermarket saat ini secara langsung bersaing dengan pasar tradisional.

Selain itu, di Pasar Wisata Songgoriti juga sudah seharusnya ada peningkatan dalam memperbaiki kualitas layanan dan keamanan. Dalam suatu penelitian jurnal yang dilakukan oleh Dedi Dwilaksana, berjudul “Index Performance Analysis Kualitas Layanan Dan Manajemen Strategi Penataan Kawasan Wisata Songgoriti”, menyatakan prioritas kualitas layanan menurut konsumen Pasar Songgoriti adalah ketersediaan sarana belanja yang bersih, aman dan nyaman, keunikan kawasan dan sekitarnya, ketersediaan akses jalan yang memadai, ketersediaan wisata kuliner yang unik pula.

Perspektif ini tentu didukung oleh pendapat mahasiswa Universitas Ma Chung Prodi International Business Management, Marchellina Christianti pada artikel yang ditulis oleh Tim Dibalikbatu.

“Perilaku konsumen itu berubah sesuai perkembangan zaman. Bisa dari gaya hidup, dan sebagainya. Maka dari itu, perlu sekali untuk memperhatikan tren pasar dan konsumen. Akan lebih baik Pasar Songgoriti juga berusaha agar dapat bersaing dengan pasar-pasar modern,” tutur mahasiswa yang biasa disapa Cellina tersebut.

Harapan penulisan perspektif ini tentunya ditujukan kepada semua pihak. Baik Pemerintah Kota Batu untuk secara cepat bertindak guna menolong mereka, para pedagang, juga eksistensi pasar wisata, serta ekonomi negeri ini. Tak terkecuali, bagi para generasi negeri untuk tetap mengingat dan mengunjungi pasar wisata, tanpa melihat perubahan zaman apa yang diikuti dan gaya hidup apa yang disenangi. Pesan ini ditulis juga untuk para pedagang Pasar Songgoriti untuk tidak pasrah, apalagi menyerah. Oh ya, satu lagi! Para pedagang Songgoriti jangan lupa tetap berdagang pakai hati!

 

Oleh Adelia S.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: pixabay.com

Leave a Reply