Suatu hal yang tak akan pernah bisa lepas dari Indonesia, yaitu kepercayaan akan hal-hal mistis, klenik, dan sebagainya. Ya, aliran dinamisme dan animisme. Sebelum proses penyebaran agama di Indonesia, mayoritas masyarakat Indonesia menganut kepercayaan dinamisme dan animisme.  Kepercayaan zaman dahulu kala itu ternyata masih digunakan hingga sekarang. Bahkan, diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu contoh kepercayaan masyarakat pada keberadaan hal-hal ghaib adalah adanya penunggu di gunung. Hampir setiap gunung di Indonesia memiliki kisahnya masing-masing yang nyata adanya, seperti Gunung Kelud, Gunung Bromo, Gunung Merapi, Gunung Kawi, dan masih banyak lagi. Konon, gunung dipercaya sebagai salah satu alam yang menyimpan sejuta misteri dan rahasia.

Kota Batu identik dengan dataran tinggi, seperti pegunungan. Gunung Panderman misalnya, yang konon juga menjadi legenda awal adanya Kota Batu. Dikenal sebagai gunung yang ramah, Panderman juga memiliki sisi yang luar biasa. Dikatakan oleh Erny Kusuma, penikmat keindahan gunung, pada Kompasiana, di puncak Basundara, kita dapat melihat cantiknya matahari terbit, seolah melihat cantiknya diri sendiri. Di Gunung Panderman, kita juga bisa melihat kehidupan makhluk yang lain, yaitu Kera Panderman.

Gunung yang menjadi background Kota Batu tersebut sangat menyenangkan bagi pendaki pemula, karena memiliki jalur pendakian yang ramah dan tidak terlalu melelahkan. Tapi, tahukah kamu di Gunung Panderman ada hal mistis yang kerap disebut dengan Pasar Setan? Pasar Setan berlokasi di Latar Ombo. Lokasi tersebut sering didirikan tenda oleh para pendaki, karena pemandangan Kota Batu dari Latar Ombo terbilang cukup bagus dan jelas.

Latar Ombo terletak di ketinggian 1604 meter di atas permukaan laut. Latar Ombo bisa disebut dengan pos II. Mitos Pasar Setan di Latar Ombo ini berdasarkan pengalaman Hasan Ishaq, yang diceritakan oleh sahabat karibnya, dan artikel pengalaman ini diupload oleh Hasan di ngalam.co. Diceritakan olehnya ketika mendaki di Latar Ombo, suasana terlihat sepi, dikarenakan mendaki saat bukan hari libur. Ketika pendaki melaju ke pos III, Watu Gede, pada saat menjelang maghrib, pendaki terkejut melihat pemandangan di Latar Ombo dipenuhi kerlap kerlip lampu dan lalu lalang orang. Saat ia turun, Latar Ombo ternyata sepi dan tidak ada kegiatan apapun seperti yang dilihatnya.

Cerita lain datang dari komunitas pendaki Yogyakarta, yaitu Argawana Adventure yang mengunggah artikel pengalaman mendaki di akun resmi mereka di Facebook pada tahun 2013. Hal ini terjadi ketika para pendaki sedang beristirahat sejenak di kala maghrib untuk menyimpan energi mendaki ke pos Watu Gede. Para pendaki mendengar suara wanita riuh sekali seperti suara di pasar. Asal suara itu diyakini dari pertigaan setelah dari Latar Ombo.

Diakui oleh Niam Zaki Zamani, pemuda prodi Teknik Geofisika Universitas Brawijaya, bahwa ia sering mendengar cerita mengenai Pasar Setan. Ia pernah mendaki Gunung Panderman dalam rangka sebagai panitia pengangkatan anggota baru himpunan. Menurutnya, mitos Pasar Setan pasti tidak lahir begitu saja, pasti ada yang memulai dan memiliki sejarah tersendiri.

“Gunung memang salah satu tempat yang menyimpan rahasia dan misteri ghaib. Misteri Pasar Setan ini mitos dan pasti merupakaan kepercayaan juga,” tutur Niam.

Hingga kini, cerita Pasar Setan di Gunung Panderman selalu membekas di cerita-cerita para pendaki dan menjadi cerita turun-temurun mereka. Beberapa pendaki pernah mengalami sendiri kejadiannya. Beberapa yang lain juga hanya disuguhkan cerita. Mitos seperti ini menjadi buah bibir. Tidak salah, kok. Dilansir dari artikel Terakota, dalam budaya Jawa, mitos menjadi bagian dari kepercayaan suatu daerah dan dipercayai sosial dan masyarakat. Disebutkan pula bahwa mitos dalam kebudayaan masyarakat Jawa menjadi referensi tindakan dan sikap dalam kehidupan manusia.

Perlu diketahui, dongeng tidak hanya dianggap sebagai pengawas terbaik bahasa dan warisan budaya, tetapi juga merupakan penolong hebat dalam proses sosialisasi, mereka mengajarkan anak cucu sebuah pelajaran yang terkadang sulit. Hal ini tertulis di dalam jurnal Mia Angeline dari BINUS University mengenai Mitos dan Budaya. Ketidakpastian yang pasti dari sebuah mitos, serta kepercayaan komunal menjadikan Pasar Setan Panderman tetap misteri bagi para pendakinya.

 

Oleh Adelia S.

Editor : Adinda S.

Sumber Foto : Akbarnug

Leave a Reply