Kota Batu belakangan ini memang sedang gencar-gencarnya menggelontorkan dana besar guna mendongkrak perekonomian kota. Sektor pariwisata menjadi salah satu program prioritas Kota Batu. Berfokuskan pada kekayaan alam yang melimpah dibarengi dengan wisata buatan yang berskala besar, tentu membuat Kota Batu menjadi primadona wisatawan untuk berkunjung.

 

Setiap pilihan yang dilakukan tentu ada hal yang disampingkan, tak terkecuali merawat tradisi dan kebudayaan. Sektor budaya kini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Batu agar identitas daerah tetap ada. Perlu adanya inisiatif dari pemerintah untuk membuat sistem yang lebih berpihak kepada aspek budaya. Belakangan, kota Batu sudah ada niatan bagus memperhatikan sektor seni dan budaya. Kota Batu membuat program satu desa satu sanggar. Dilansir dari Radar Malang, sanggar tersebut diperuntukkan sebagai pusat kesenian masyarakat. Dengan melirik budaya, tentu akan memperkenalkan ciri khas tiap daerah. Disampaikan oleh Imam Suryono, Kepala Dinas Pariwisata Kota Natu, Imam Suryono bahwa tahun 2020 program tersebut harus maksimal.

 

”Tahun ini kita maksimalkan Satu Kecamatan Satu Sanggar, tahun depan Satu Desa Satu Sanggar,” tegas Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono, kepada Radar Malang, 8/04/2019.

 

Sesungguhnya Kota Batu memiliki kebudayaan yang banyak. Salah satunya di bidang tari. Kota Batu memiliki Tari Sembromo. Tari Sembromo biasanya ditampilkan di pagelaran selamatan desa dan suroan. Kadang tarian ini juga ditampilkan sebagai pengiring tamu penting. Memiliki makna Owah berarti bersyukur atas segala rezeki yang diberi, Oweh artinya dermawan dan semangat bergotong-royong dan Ewoh bermakna pertanian menjadi salah salah satu sumber penghasilan masyarakat Kota Batu.

Tarian ini biasanya beranggotakan 5 orang perempuan. Memiliki syarat khusus untuk bisa menjadi penari sembromo, harus suci atau setidaknya mandi besar, serta tidak dalam keadaan haid. Setiap penari diberi dua bunga melati berwarna merah putih yang dipasangkan di telinga.

Perlunya sinergi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci untuk keberhasilan merawat tradisi lama. Pemerintah tentu perlu berperan lebih aktif dengan tidak hanya menampilkan Tari Sembromo ketika ada pejabat negara bertandang ke Kota Batu, tapi juga perlu dibuat event besar atau setidaknya dilombakan untuk generasi muda maupun tua agar sama-sama merawat Tari Sembromo.

Selain bidang tari, Kota Batu juga memiliki Bantengan. Bantengan adalah selah sayu tradisi kuno yang lahir sejak zaman kerajaan Singasari. Kira-kira sejak tahun 1222. Penciptanya adalah Santika Joyo. Alih-alih melihat kaum muda yang lebih doyan rebahan ketimbang bermain silat, akhirnya Santika Joyo memadukan antara seni tari dan pencak silat, maka jadilah Bantengan. Dalam proses pagelarannya. Bantengan termasuk kesenian yang begitu mistis sekaligus ekstrimis. Dicampur dengan tari, topeng, pencak silat, serta kadang kalau lagi beruntung bisa mendapatkan momen kerasukan roh banteng, singa, dan monyet.

 

Pemerintah adalah pelayan publik, pemerintah mesti memberikan pos pendanaan tersendiri untuk kesenian. Bisa berupa bentuk anggaran hibah APBD ataupun dalam bentuk pemberdayaan. Beberapa program sudah bagu, seperti ada satu desa satu sanggar. Tinggal dikawal saja baik dari pemerintah maupun masyarakat agar program tersebut bisa berjalan guna merawat tradisi Kota Batu.

Kota Batu sudah didapuk menjadi kota wisata. Artinya, harus mampu menawarkan hal yang lebih tidak banyak obyek wisata keluarga dalam bentuk wahana hiburan. Tidak banyak menggantungkan penorama alam dalam balutan agrowisata, tapi juga menguatkan keindahan seni serta tradisi yang sudah diwariskan nenek moyang.

Pada perspektif ini, yang ingin ditekankan adalah program kebutuhan sanggar memang sangatlah penting untuk merawat kebudayaan. Melalui sanggar tentu akan melahirkan generasi muda penerus budaya. Melalui sanggar, masyarakat bisa menyaksikan pagelaran kebudayaannya sendiri. Melalui sanggar, pemerintah mampu mendongkrak sektor pariwisata. Dengan beragam pilihan wisata, tentu akan membuat wisatawan tertarik bersemayam lebih lama di Kota Batu. Biarkan masyarakat bersikap bebas atas pilihan budaya, beri ruang dan akomodasi kebutuhan yang layak untuk mereka berkreasi. Tentunya tak hanya bentuk sanggarnya saja, tetapi berilah ide, edukasi, sarana, dan prasarana yang menunjang kreasi mereka.

Tentu Kota Batu akan lebih berwarna apabila kesenian tak dilupakan begitu saja oleh segala elemen masyarakat. Untuk masyarakat, ajarilah anak kecil secara perlahan untuk mulai mengenal kebudayaan Kota Batu, ajak mereka bermain ke sanggar dan kenalkan Topeng Kerbau seberat 30 KG, atau jika jago melukis, ajak mereka ke tempat yang mendukungnya untuk berkreativitas dan berpikir kritis. Sekali lagi, panjang umur kebudayaan!

 

Oleh Devi N.

Editor: Rosihan A.

Sumber Foto: Pixabay.com

Leave a Reply