Tak dapat dipungkiri, kota itu kini dipenuhi dengan vila-vila yang menjulang tinggi. Hingga ada asumsi transformasi nama kecilnya dari De Kleine Zwitserland menjadi The Little Singapore. Kota Batu. Surga mata dengan berjuta sumber daya yang melimpah terbentang luas untuk dieksplor insan manusia. Lalu kini, apakah diekploitasi juga?

Pembangunan wisata yang gencar-gencarnya dilakukan oleh kota itu dapat berujung alam yang mati. Krisis ekologi yang dihadapi seluruh dunia pun menjadi kunci dan kunci itu ada di tangan pemerintah dan semua umat yang menapaki Kota Batu. Di mana pun mereka berada, lambat laun akan merasakan keprihatinan mendalam mengenai krisis lingkungan ini. Jika alam sudah mati, bagaimana kita bisa tinggal di bumi? Krisis ini akan dan pasti akan mempengaruhi seluruh sistem ekologi alami di muka bumi, tak terkecuali Si Swiss Kecil. Dengan itu, otomatis kita yang selama ini mengeksploitasi, akan merasakan akibatnya pula. Seperti udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, air yang kita minum, termasuk sistem organ di dalam tubuh kita, semua akan terpengaruhi krisis ekologi.

Husain Heriyanto dalam Tropika Indonesia tentang “Global Forum on Ecology and Poverty” yang diselenggarakan di Dhaka pada 22-24 Juli 1993, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan bahwa dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia. Seperti 200 ton karbon dioksida yang kita kontribusikan untuk bumi setiap detiknya, 750 ton top soil musnah. Tak hanya itu, sekitar 47.000 hektar hutan dibabat habis oleh oknum yang tak bertanggung jawab dan 16.000 hektar tanah digunduli hanya untuk pembangunan mengikuti arus globalisasi. Di saat yang bersamaan pula, penduduk bumi terus bertambah sekitar satu milyar per dekadenya. Perkembangan alam dengan umat manusia dan pembangunan berbanding terbalik.

Di Kota Batu, krisis ekologi tak dapat dihindari. Penetrasi kaum kapitalis dengan embel-embel “pariwisata” kian marak terjadi. Terbukti, jika kita jalan menelusuri Kota Batu, tampak lahan-lahan gundul yang nantinya akan dijadikan vila-vila dan hotel, atau bahkan destinasi wisata buatan yang baru lagi. Banyaknya bangunan yang berdiri memiliki dampak yang berkontribusi terhadap krisis ekologi, memperburuk keadaan alam yang sudah terpuruk, akibat tangan jahil manusia sendiri.

Mungkin hingga sekarang ini, dampak krisis ekologi yang dapat dirasakan hanya suhu Kota Batu yang kian meningkat. Menurut catatan Pemerintah Kota Batu, suhu udara di kota ini pada 1967 masih berkisar 16˚C pada malam hari dan 26˚C pada siang hari. Kini, berubah menjadi 20˚C saat malam dan 30˚C pada siang hari. Hal ini pun diperparah dengan minimnya reboisasi dalam rangka menciptakan hutan kota sebagai paru-paru Si Swiss Kecil. Penghijauan yang dilakukan di pinggiran jalan pun seakan asal tak karuan.

Jika terus seperti ini, yakinlah bahwa alam kita akan mati, suatu saat nanti. Walau krisis ekologi tampaknya tak bisa kita hindari, namun ada kiat versi National Geographic Indonesia yang bisa kita lakukan untuk memperpanjang umur bumi, dimulai dari diri sendiri.

Menggunakan angkutan umum.

Hal ini tentu dibarengi dengan dukungan pemerintah dengan menyalurkan dana dalam rangka memberikan layanan angkutan umum yang lebih baik lagi. Lebih aman, sehingga masyarakat tak enggan untuk menaiki angkutan.

Hemat energi.

            Menghemat energi elektronik dan listrik dapat sangat membantu memperpanjang umur bumi. Terlihat kecil, namun emisi gas rumah kaca dari setiap energi yang kita gunakan memiliki pengaruh yang tak baik untuk kesejahteraan lingkungan. Bahkan, mempercepat global warming.

Kurangi konsumsi daging.

            Perlu diketahui, proses pengolahan daging merah menghabiskan banyak emisi gas rumah kaca. Mungkin ternilai sulit, namun perlahan tapi pasti, bisa dijalani. Mulailah dari mengurangi daging seminggu sekali.

Daur ulang.

            Daur ulang juga memiliki peran penting dalam memperpanjang umur bumi. Sudah tak asing kita ketahui bahwa sampah plastik membutuhkan setidaknya 1000 tahun untuk terurai. Itupun ia hanya menjadi partikel-partikel kecil yang masih berbahaya bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Mulailah dengan menggunakan totebag dari kain yang dapat digunakan berkali-kali saat berbelanja. Juga bisa dengan membawa tempat bekal sendiri jika ingin membeli makanan di luar. Intinya, tolak penggunaan plastik dan mulai daur ulang.

Beritahukan kepada yang lain.

            Ajaklah orang-orang terdekat untuk melakukan kiat-kiat di atas untuk bumi yang sejahtera. Langkah tersebut akan terasa mudah dilakukan ketika kita didampingi dengan orang yang ada di sekitar kita. Tak hanya dari sesama warga dan masyarakat sekitar, namun juga pemerintah.

Di Bali, ada regulasi dari pemerintah yang tidak membolehkan penggunaan sampah plastik. Dari warung kecil hingga swalayan besar, mereka semua tidak menyediakan kantong plastik, melainkan totebag. Tak hanya itu, tempat-tempat makan pun dilarang menyediakan sedotan plastik. Hal ini mulai berlaku sejak Desember 2018. Gubernur Bali, Wayan Koster, mengumumkan larangan penggunaan kantong plastik, styrofoam dan sedotan plastik. Larangan ini tercantum dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018 dalam rangka menekan sampah plastik. Jika Bali bisa, Batu juga bisa bukan?

Saling mendukung dalam kebaikan tentu diperlukan dalam mengatasi krisis ekologi. Baik aku, kamu, mereka, dan pemerintah, sebaiknya bersatu untuk kesejahteraan bersama. Regulasi dan kebijakan pemerintah mengenai eksploitasi sumber daya alam diperlukan. Kesadaran dan pemahaman masyarakat akan efek yang ditimbulkan dari krisis ekologi pun perlu ditingkatkan. Bersama, kita bisa perpanjang umur bumi pertiwi.

Oleh Farhan R.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: Coterra Impact

Leave a Reply