Kota Batu, kota primadona orang Eropa yang dijuluki sebagai Swiss Kecil ternyata tidak hanya menarik di dunia pariwisata. Memiliki SDM masyarakat yang terjamin tentunya juga menarik bagi dunia perfilman. Keindahan dan keunikan itu tentu menjadi potensi baik bagi Kota Batu di berbagai macam sektor, seperti sektor pariwisata, ekonomi, sosial, agrikultur, kesenian, serta potensi perfilman pula.

Berbicara mengenai perfilman, Kota Batu juga memiliki potensi yang besar. Potensi SDM dan SDA yang luar biasa menjadi perhatian yang serius untuk diangkat. Tahun 2005 merupakan tombak utama sejarah perfilman Kota Batu. Hal ini ditandai dengan adanya sekolah kejuruan broadcasting, yaitu SMKN 3 Batu. Baru-baru ini bulan Februari 2020 juga diadakan kerja sama antara Pemerintah Kota Batu dengan Viu Shorts, Manager Umum Viu, Myra Suraryo. Kerja sama tersebut dimaksudkan untuk mengangkat potensi SDM dan SDA daerah Kota Batu. Selain Kota Batu, ada 19 kota lainnya yang bekerja sama dengan Viu Shorts. Film yang mengangkat potensi daerah tersebut akan menjadi film pendek dan mengangkat potensi suatu daerah di Pura Giri Arjuno, mengenai mitos Pawang Hujan.

Potensi yang dimiliki masyarakat pun menjadi SDM film itu sendiri. Arfan Adi Perdana, Pengamat Sejarah Film Malang Raya dalam Video Dokumenter Agrinema, mengungkapkan bahwa perfilman Kota Batu mulai bersinergi di tahun 2005, yaitu sejak berdirinya SMK Kejuruan, yaitu SMKN 3 Batu. Arfan memaparkan masalah kualitas dan kuantitas adalah tergantung bagaimana film tersebut diterima oleh masyarakat. Hingga tahun 2018, cukup banyak pencapaian prestasi di kalangan sineas Batu. Lingga Galih Primadi contohnya. Sutradara muda yang mengangkat fenomena Kota Batu dalam dokumenter 24 menit di Festival Film Yogyakarta 2014 dan meraih Best Film kala itu. Lalu ada “Rotasi” oleh Histori Film yang meraih Best People Choice di ajang Five Minutes Video Challenge Singapore, serta meraih film terbaik juga di FLS2N SMK 2017.

“Ya, kita kalau ingin mengetahui Batu, harus main dulu ke Batu,” tutur Arfan.

Menelisik perkembangan potensi film, Kota Batu punya SIMBA. Komunitas Sinema Mbatu Adem atau yang dikenal dengan Komunitas SIMBA merupakan komunitas yang bergerak di bidang perfilman dan merupakan wadah eksebisi dan apresiasi karya film. Berdiri sejak Oktober 2018, komunitas film ini sering kali meraih apresiasi. SIMBA pernah mengikuti kompetisi yang diadakan oleh PemKot Batu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan karya video pendek berjudul “Grace” yang mengangkat isu mengenai dunia pariwisata, khususnya Kota Batu. Kompetisi tersebut diselenggarakan pada November 2018.

Dibenarkan oleh Dzauqy Ilham, Ketua Komunitas SIMBA, Kota Batu memiliki kisah-kisah unik dan menarik. Kata Ilham, tahun ini Komunitas SIMBA akan melancarkan proyek film pendek. Mewujudkan keinginan dan memperkuat ideologi komunitas mereka, isu budaya Kota Batu merupakan cita-cita sepanjang masa Komunitas SIMBA tersebut. Memajukan perfilman Kota Batu dan mempererat koordinasi edukasi kepada desa-desa di Kota Batu perihal pendidikan, sosial, lingkungan melalui perfilman.

“Tentunya juga memperkenalkan potensi daerah Batu kepada masyarakat desa. Secara tidak langsung memberikan edukasi dan pemahaman bahwa Batu juga bisa berkembang di perfilman,” tutur Ilham.

Tentu sangat menarik jika berbicara mengenai sejarah, tradisi, dan budaya. Tidak hanya mengembangkan sektor pariwisata, namun ketiga aspek tersebut dapat mengembangkan sektor perfilman. Menurut Ilham, sejarah mitos dan kepercayaan orang Batu pun bisa diangkat menjadi film. Sejarah Gunung Panderman, Tragedi Bumi Dendeng, hingga Romansa Coban Rondo, misalnya. Intinya, disampaikan oleh pria penikmat film tersebut bahwa budaya harus memiliki porsi besar dalam perfilman.

Lagi-lagi soal potensi budaya, Wingga Prasetya, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi asal Kota Batu, mengatakan bahwa jika dilihat dari jumlah komunitas film, adanya Pendidikan SMK yang menaungi perfilman dan broadcast, serta tanggapan yang cepat dari Pemerintah Kota Batu, Wingga pikir ini menjadi hal yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Sebenarnya tidak hanya wisata alam, kisah di Kota Batu, serta sejarah sih. Keunikan mata pencaharian masyarakat Batu, serta kehidupan sosial juga justru merupakan budaya unik dari Kota Batu,” jelas mahasiswa berusia 21 tahun tersebut. (del)

Ditulis oleh Adelia S.

Editor: Adinda S.

Foto: Dokumen pribadi Komunitas SIMBA

Leave a Reply