Apa yang terlintas ketika mendengar Kota Batu? Pariwisata pastinya. Kota yang identik dengan ikon pariwisatanya hingga di mata dunia ini dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland yang berarti Swiss Kecil. Tak hanya itu, pemerintah daerah pun seakan meresmikan julukan ‘Kota Wisata Batu’ dengan ornamen-ornamen singkatan KWB yang bertengger di tepi jalan raya dan di pusat wisata Kota Batu.

Sektor pariwisata kini tengah dijunjung tinggi oleh pemerintah dan juga warga setempat. Turis-turis lokal maupun mereka yang dari penjuru dunia pun berlomba-lomba ingin merasakan sensasi liburan di Swiss Kecil itu. Hal ini tentunya memiliki implikasi yang besar terhadap Kota Batu, terlebih dari segi budaya juga tradisinya.

“Batu itu adalah sebuah kota yang terdiri dari banyak desa. Nah, kota itu selalu terdiri dari kelurahan, namun Batu tidak,” jelas Winarto Ekram, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu. Winarto percaya hal ini menjadi salah satu daya tarik dari Si Swiss Kecil, baik dari cara hidup juga tradisi masyarakat desanya yang bisa dikatakan agraris namun juga metropolitan, yang membuatnya dikenal dengan julukan Kota Agropolitan.

Sejauh mata memandang, kini tampaknya Kota Batu memang tengah dihiasi oleh banyaknya pariwisata dan vila-vila. Perubahan yang signifikan ini tentu berperan besar dalam mempengaruhi kelestarian budaya dan tradisi Kota Batu. Dari pengalaman Winarto yang juga merupakan penari tradisional profesional, ia percaya bahwa seni dan budaya itu tidak bisa kita jaga dan tak bisa terus ada selamanya. Tugas kita hanya bisa untuk memperlambat lajunya dampak yang ditimbulkan dari pengaruh modernisasi terhadap budaya dan tradisi yang ada agar tidak segera terkikis.

“Dulu masyarakat Kota Batu hidup bertani, sekarang menyewakan vila ataupun pekerjaan-pekerjaan lain terkait ramainya wisatawan mengunjungi Kota Batu,” ujar Fauzik Lendriyono, seorang Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial dari universitas terkemuka di Malang ketika ditanya mengenai tradisi masyarakat di Batu saat ini. Pengaruh dari perubahan yang signifikan dari agraris ke metropolitan dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini dipercaya juga berdampak kepada tradisi solidaritas yang dulu pernah sangat erat.

Fauzik juga menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian mahasiswa sosiologi menunjukkan tradisi solidaritas masyarakat Kota Batu kini sudah mulai renggang dikarenakan ada kepentingan-kepentingan ekonomi yang harus dipenuhi. Apel yang dahulu pernah menjadi ‘maskot’ Kota Batu, sekarang seakan sudah tak ikonik lagi. Memang, jika kita tarik benang sejarah dan telaah lebih jauh, Kota Batu seolah dibuat untuk menjadi kota wisata, bahkan sejak zaman Belanda. Taman Rekreasi Selecta yang kini menjadi salah satu ikon wisata must-visit Kota Batu itu didirikan oleh orang Belanda,De Ruyter De Wildt, pada tahun 1930. Ya, bibit-bibit wisata telah ditanam sejak hampir 100 tahun yang lalu.

Saat ditanya apakah seni budaya khas Kota Batu lambat laun akan sirna di tengah pesatnya modernisasi dan pembangunan pariwisata, Fauzik percaya bahwa penggiat seni di kota tersebut akan berusaha menunjukkan dan membangun identitas seninya.

“Kalau budaya hilang saya kira tidak akan, tapi budaya itu akan berkreasi karena orang-orang Kota Batu itu kreatif,” papar Fauzik. Seperti Bali dan Yogyakarta yang merupakan destinasi wisata terbesar Indonesia, namun budaya dan tradisi masing-masing daerah tersebut dapat dikatakan kian melekat dan tak sirna. Fauzik percaya Batu bisa menjadi seperti mereka.

Sesuai dengan Undang-Undang RI No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, seni budaya dan tradisi memang seharusnya senantiasa dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, serta dibina di tengah marak dan pesatnya modernisasi yang mempengaruhi dunia tak terkecuali Indonesia kita. Itu bukan hanya menjadi tugas pemerintah, namun kita semua. Semua bisa dimulai dari diri kita. (dnd)

Ditulis oleh Adinda S.

Editor: Adelia S.

Foto : Pegipegi.com

Leave a Reply