Kota Batu, selain terkenal akan apel dan pariwisatanya menarik, kota dingin ini juga terkenal akan perkopiannya. Menelisik perkopian kopi di Indonesia, ternyata sudah lebih dikenal ketika VOC, Masa Kolonial Belanda. Seperti di Malang, konon, pada masa itu, kawasan Malang Barat merupakan areal perkebunan kopi yang tak kalah luasnya dan telah ada jauh sebelum berkembangnya perkebunan kopi di sub-kawasan Malang Timur dan Selatan. Selain Malang, Kota Batu juga menjadi lahan perkebunan kopi, serta Kecamatan Pujon dan Ngantang yang menjadi sub-kawasan perintisan awal perkebunan kopi di Malang Raya.

Pada dasarnya kopi memang bukan tanaman khas Indonesia, namun memang dibawa langsung oleh Bangsa Belanda yang saat itu menjajah dengan Sistem Tanam Paksanya. Dijelaskan oleh Didik Mintarjo, Budayawan Kota Batu, selaku Wakil Ketua DPD Golkar Kota Batu, bahwa kolonialisme yang dibawa oleh Bangsa Belanda ke Indonesia memiliki dampak di bidang perkebunan atau hasil pertanian di Kota Batu. Tak hanya Kota Batu, tapi di berbagai daerah di Indonesia. Pasalnya, pertanian kopi sangat menguntungkan VOC saat itu. Ia menambahkan perkebunan kopi di Kota Batu mulai bergeliat dan berkembang sekitar tahun 1960.

Selepas kepergian penjajah, kebun kopi di Kota Malang kini mulai dilirik kembali oleh pemerintah. Perluasan lahan dan pemberdayaan petani kopi mulai dijalankan, seperti yang terjadi pada perkembangan kopi Kota Batu. Menurut data Dinas Pertanian Kota Batu, luas lahan kebun kopi Arabika di Pesanggrahan, Kota Batu seluas 13 hektare, Songgokerto 6 Hektare, Sumbergondo 15 hektare, Bulukerto 8 hektare. Selain itu, menurut data dari BUMN Perhutani, lahan perkebunan kopi di Kota Batu terus diperluas. Menariknya, produksi kopi di wisata ini mencapai rata-rata 150 ton tiap tahun dan terus bertambah. Kopi yang paling banyak diminati petani kopi Batu adalah jenis arabika.

 

“Ke depan, kami terus membantu dan memfasilitasi petani kopi di Kota Batu. Kami bantu sediakan bibit kopi, dan memberikan alat giling kopi dan penggoreng kopi,” ujar Hendri selaku sekretaris Pertanian Kota Batu, dikutip dari MalangVoice (16/10/2018).

 

Berbicara mengenai kopi Kota Batu, yaitu kopi jenis arabika, ternyata sudah melalang buana ke kancah Negara Asia lainnya, yaitu Korea. Kopi kali ini adalah hasil pertanian di lereng Gunung Arjuna. Namanya terkenal dengan Kopi Arjuna Arabika Tipika. Dilansir dari malangtimes.com, kopi ini dikembangkan oleh Slamet Kurniawan, warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Hingga kini, Slamet sering kali mendapat pesanan dari Korea dan Taiwan, kawasan seluruh Indonesia.

Kopi Vanderman. Selain Arabika, ada pula Kopi Vanderman. Kopi ini datang dari warga Songgokerto, Pratama Galih Anantha. Galih bekerjasama dengan petani kopi di daerah Gunung Mujur, Gunung Arjuno, dan Gunung Panderman. Ia membantu petani kopi untuk dapat memproduksi biji kopi menjadi green bean. Kopi ini berhasil menembus pangsa pasar dan berhasil masuk di perhotelan Kota Batu.

Tak hanya itu, kopi Batu juga meningkatkan pariwisata dan perekonomian masyarakat Kota Batu. Seperti salah satu perkebunan kopi di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji sering kali dilirik wisatawan sebagai destinasi wisata mereka. Tak hanya sebatas berwisata, namun para wisatawan dapat belajar mengenai kopi Kota Batu. Selain merasakan nikmatnya kopi Kota Batu, wisatawan juga mendapatkan wawasan baru mengenai kopi.

 

“Satu di antara pilihan itu adalah  edukasi wisata kopi di Bulukerto. Destinasi wisata itu banyak disasar penikmat kopi,” kata Febrian Budi, kepada surabayapost.id, 3/8/2019.

 

Memiliki wisatawan yang banyak dan suasana Kota Batu yang mendukung membuat eksistensi dunia perkopian sangat cocok untuk Kota Batu. Hal ini dikatakan oleh Mochammad Arif Lukman Hadi, mahasiswa Universitas Negeri Malang asal Singosari.  Namun, Lukman beranggapan Kota Batu sangat berpotensi di wisata alam. Ia berpendapat perkebunan bisa menjadi daya tarik pula, namun perkembangan pariwisata lebih menjanjikan. “Kota Batu itu terkenal akan wisata alam. Akan lebih menjanjikan kalau ditingkatkan pariwisatanya, misal perkebunan kopi dijadikan tempat wisata atau edukasi, atau bahkan kafe-kafe untuk ngopi ala milenial,” tuturnya.

 

Indonesia memang sudah akrab dengan tradisi ngopi. Tak hanya remaja milenial, tetapi yang dewasa, hingga yang tua-tua.  Ngopi tak melulu soal gaya hidup kebaratan, namun juga kearifan lokal. Dengan adanya perkembangan kopi di Indonesia, seperti di Kota Batu, sudah seharusnya kita bangga akan produk lokal. Yuk, untuk menuju Indonesia yang paripurna, tim redaksi dibalikbatu mengajak kalian dari yang muda hingga yang tua untuk membudayakan tradisi ngopi dengan kearifan lokal!

 

Ditulis oleh Farhan R.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: zalcoffee.com

Leave a Reply