Gong Xi Fat Cai. Sebuah ucapan yang sering kali kita dengar ketika perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina yang berarti semoga mendapatkan lebih banyak kekayaan. Imlek merupakan hari besar bagi mereka, umat Tionghoa. Tak berbeda jauh dari umat lainnya, seperti umat Muslim dan umat Kristiani yang memiliki hari besar, yaitu Idul Fitri dan Natal. Hari besar tersebut merupakan hari berkumpulnya keluarga. Imlek pun begitu. Selain berkumpul bersama keluarga dan teman-teman untuk makan bersama, Imlek juga merupakan waktu untuk mengusir roh-roh jahat dengan kembang api, serta waktunya anak-anak berebut hadiah berupa angpao merah.

Perayaan Imlek sekarang tidak lagi seperti waktu Indonesia tahun 1998. Kala itu, perayaan Imlek dikekang oleh Pemerintahan Masa Orde Baru. Instruksi Presiden Soeharto saat itu, perayaan Imlek hanya boleh dilakukan di kalangan keluarga, tidak untuk di depan umum. Namun, perayaan Imlek mulai berbeda ketika masa pemerintahan Gusdur. Ia membuka kebebasan beragama bagi seluruh umat, termasuk masyarakat Tionghoa melalui Keputusan Presiden Nomor 19/2001 pada tanggal 9 April 2001.

Berbicara mengenai perayaan Imlek, di Kota Batu ada Klenteng Kwan Im Tong. Klenteng Kwan Im Tong merupakan tempat beribadah umat Tionghoa yang sudah berdiri sejak 1960 dan satu-satunya di Kota Batu. Klenteng ini berlokasi di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sisir, Kota Batu. Seperti klenteng lainnya, warna merah mendominasi bangunan Klenteng Kwan Im Tong ini. Di terasnya, ada beberapa persembahan dari pengunjung berupa buah dan makanan yang berjejer di sebuah meja seperti altar. Pada dindingnya pun terpahat relief cantik yang melukiskan sosok Dewi Kwan Im Tong yang sedang mengendarai seekor naga raksasa. Patung Dewi Kwan Im Tong yang terletak di tengah ruangan klenteng ini pun ikut menambah khidmatnya prosesi agama di dalamnya.

Sebagai tempat yang sering dituju warga Tionghoa yang menetap di Kota Batu, terkadang wisatawan juga datang untuk beribadah, sejak masih berbentuk rumah. Klenteng Kwan Im Tong selalu ramai ketika perayaan Imlek, bahkan terkadang ramai ketika bukan hari besar Imlek. Seperti pada tahun 2019, Imlek yang jatuh pada tanggal 5 Februari 2019, Klenteng Kwan Im Tong merayakan Imlek terbuka dengan menyuguhkan vegetarian bagi yang beribadah dan berwisata. Selain itu juga menyuguhkan makanan khas Tionghoa. Perayaan Imlek tahun-tahun sebelumnya juga sama.

Dilansir dari malangtimes, Handy Wijaya, Ketua Klenteng Kwan Im Tong menuturkan pintu klenteng terbuka lebar bagi para wisatawan, mengingat Kota Batu adalah Kota Wisata. Hal ini juga untuk mewariskan toleransi dan mengajarkan perbedaan.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi wisatawan yang penasaran dengan klenteng kami,” ungkap Handy kepada malangtimes (30/01/19).

Di tahun 2020 pun Klenteng Kwan Im Tong kembali merayakan Imlek. Pada 25 Januari 2020, klenteng mengadakan ibadah bersama, tetapi tanpa penampilan barongsai, yang biasanya selalu ada. Menariknya, sebelum perayaan Imlek pada hari H, Klenteng Kwan Im Tong bersama warga Tiongkok Kota Batu melaksanakan ritual adat Tiongkok, yakni melepas burung. Ritual ini bukan ritual baku, tetapi sering kali dilakukan umat ketika akan menuju Imlek. Dijelaskan oleh Handy bahwa ritual ini ditujukan untuk memberikan kebebasan. umat Tionghoa pun meyakini dengan melepas ikan atau burung akan buang sial.

“Baik burung atau ikan dilepas sewaktu-waktu, karena bukan ritual imlek yang baku, tujuannya memberikan kebebasan,” ujar pengurus Kelenteng Kwan Im Tong Kota Batu, Handy Wijaya.

Selain ritual, barongsai, dan jamuan makan, di bulan-bulan tertentu, klenteng ini juga mengadakan pertunjukan boneka khas Cina. Boneka tersebut didandani dengan busana ala negeri Cina dan beraksi diiringi musik seperti pertunjukan Barongsai. Biasanya, pertunjukan tersebut mengangkat cerita klasik Cina. Pertunjukan ini ditujukan untuk meminta hujan di musim kemarau panjang.

Eunike Anetha Krisetia, salah satu remaja Tionghoa yang merupakan mahasiswa Universitas Ma Chung Malang beranggapan bahwa makna Imlek adalah menjalin silahturahmi. Imlek juga suatu perayaan mengucap syukur yang besar dan perayaan untuk harapan agar mendapatkan rezeki yang melimpah.

“Sekarang, perayaan Imlek luar biasa meriah, berbeda dengan zaman dulu. Ini juga merupakan berkat bagi warga Tionghoa sih,” tuturnya.

Saling menghormati antar umat beragama tentu adalah kewajiban dan hak setiap warga negara. Menyayangi dan saling mengasihi juga merupakan bentuk perdamaian. Sudah menjadi bagian dari kehidupan untuk saling percaya, menghormati, mengasihi, menyayangi, serta saling memberi. Sebagai manusia bermoral, sudah sepatutnya untuk menghargai perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda namun tetap satu. Mari kita tegakkan toleransi untuk generasi Indonesia yang lebih baik lagi.

Ditulis oleh Adelia S.

Editor: Adinda S.

Sumber Foto: Good News From Indonesia

Leave a Reply