Mungkin kamu pernah berfoto ria dengan pahlawan-pahlawan terkenal di dalam sebuah film, seperti Batman, Captain America, Spiderman, Wonder Woman, maupun Transformers. Namun, apakah kamu pernah juga mencoba berfoto ria dengan sosok yang menyeramkan seperti pocong, kuntilanak, dan suster ngesot? Jika belum, sepertinya kamu harus mencoba berfoto dengan mereka, para penghuni jadi-jadian di trotoar Alun-alun Kota Batu. Memang, milenial Indonesia memiliki tradisi yang cukup unik, seperti menjadi sosok menyeramkan di Alun-alun untuk sekadar mencari nafkah, atau juga menjadi penikmat sosok menyeramkan jadi-jadian tersebut. Yuk, kita ulas sosok menyeramkan ini dan tradisi foto di alun-alun!

Ada-ada saja cara orang dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti halnya sosok hantu jadi-jadian di trotoar Alun-alun Kota Batu. Hadirnya sosok hantu jadi-jadian ini justru semakin menambah keramaian dan mengundang para wisatawan baik lokal, atau mancanegara. Salah satu orang yang melakukan pekerjaan tersebut adalah Angelina. Angelina merupakan warga asli Kota Batu, tepatnya warga Ngaglik. Demi memenuhi kebutuhannya, ia rela menjadi pocong hampir tiap malam di Alun-alun Kota Batu. Ia selalu berharap mendapat tips yang tak seberapa dari orang yang mengajaknya berfoto atau selfie.

Sebagai sosok pekerja keras, Angelina sudah menjadi pocong di Alun-alun Kota Batu sejak enam bulan terakhir terhitung dari bulan Mei tahun 2016. Namun, sebelum itu ia pernah menjadi sosok hantu di Batu Night Spectacular (BNS) selama tiga tahun. Selepas dari pekerjaan di BNS, ia diminta langsung oleh pengelola Alun-alun Kota Batu untuk menjadi sosok hantu di alun-alun. Hal ini tentu ditujukan untuk strategi marketing dari alun-alun agar semakin mendatangkan banyak wisatawan.

“Beberapa bulan setelah lepas dari BNS, saya diminta langsung oleh pihak alun-alun untuk menjadi sosok hantu di sini. Tujuannya agar makin ramai pengunjung saja,” tutur Angelina.

Menjadi pocong jadi-jadian cukup membuahkan hasil yang lumayan. Dituturkan oleh Angelina kepada Malangvoice.com, walau tak banyak, hasil dari kerja keras menjadi pocong tersebut dapat membantunya untuk membeli kebutuhannya. Selain itu, ia menuturkan pula jam kerja di alun-alun terbilang tidak lama. Biasanya, ia akan mulai merubah diri menjadi sosok pocong pada pukul 18.00 WIB hingga 20.00 WIB. Namun, ia menuturkan jam kerja juga dapat tergantung mood yang ada.

Adanya sosok hantu di trotoar alun-alun membuka peluang tersendiri bagi pihak alun-alun. Mendatangkan banyak pengunjung, serta meramaikan penghujung jalan trotoar, karena ada sosok hantu ini, atau bahkan karena ingin mencoba bianglala khas Alun-alun Kota Batu. Tak dapat dipungkiri lagi, tradisi berfoto ria dengan sosok hantu di Indonesia menjadi kian menarik bagi dunia pariwisata di Indonesia sendiri. Tak hanya di Alun-alun Kota Batu, melainkan di tempat-tempat wisata kota lainnya, seperti di Jalanan Bandung, Titik Nol Jogja, Kota Tua Jakarta, Alun-alun Subang, serta di tempat wisata modern seperti Jatim Park Batu juga ada.

Seperti salah satu pengunjung Alun-alun Kota Batu, Ganda Harsono. Ia mengakui sosok hantu seperti Angelina justru memberikan warna tersendiri bagi Alun-alun Kota Batu.

“Awalnya sih ngerasa horor. Tapi lama kelamaan seru juga foto bareng hantu. Jadi menambah warna tersendiri di Alun-Alun Kota Batu,” kata Ganda kepada Times Indonesia, Minggu (21/2/2016).

Menjadi sosok pocong jadi-jadian demi memenuhi kebutuhan hidup merupakan hal yang patut diapresiasi. Hal ini juga membuktikan generasi penerus Kota Batu yang berani menuju kebutuhan hidup yang lebih terpenuhi, melalui pekerjaan yang tak melulu bertani. Tentu tak hanya Angelina, sosok pocong di alun-alun tersebut saja namun, masih ada generasi-generasi Batu selanjutnya yang lebih mampu membentuk Kota Batu yang lebih baru!

Oleh Devi N.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: travelingyuk.com

Leave a Reply