Tiap sore hujan mengguyur Kota Batu. Kata orang-orang tua, hujan adalah berkah. Apalagi selepas Hari Raya Idul fitri, semoga hujan membawa kedamaian. Hujan membawa air. Air adalah inti dari kehidupan. Air juga membawa kesegaran. Tentu saja membawa kedamaian bagi umat manusia. Jika ada orang yang sedang didera masalah, minum air putih dapat menimbulkan efek psikologis menenangkan hati. Air juga sumber kesehatan. Minum air beberapa gelas dalam sehari, akan membawa efek bagi kesehatan kita. Karena itu, jangan remehkan air. Syukurilah hujan yang telah mengguyur di kotamu. Kemarau yang panjang akan membuatmu merindukan hujan. Maka, nikmati saja dan peluk erat hujan. Bukankah, hujan membantu kita mengintropeksi diri?

Tahun 2020 sudah memasuki pertengahan tahun. Tahun 2020 merupakan tahun yang berat. Banyak permasalahan yang kita alami tak terkecuali Covid-19. Di tahun 2020, berapa buku yang sudah kamu baca? Berapa karya yang sudah kamu tulis di tahun 2020? Atau berapa buku yang sudah kamu terbitkan pada 2020?

Covid-19 membawa perubahan begitu besar, tak terkecuali harapan yang sempat pudar. Tak terkecuali bagi masyarakat Kota Batu, seperti vila-vila yang mengalami penurunan omset, pasar wisata yang menurun jumlah pengunjungnya, serta tempat wisata yang sepi karena program pemerintah #dirumahaja, bahkan ekonomi masyarakat Kota Batu yang terdampak Covid-19. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu yang menurun dan hilang sekitar 80.8 Miliar, sedih bukan? Tak hanya Kota Batu, tetapi pasti kota lainnya pula.

Program pemerintah di rumah saja, tentu membuka harapan baru bagi masyarakat Kota Batu, dan juga kita. Meskipun sangat harus kita rubah dengan pola pikir baru. Di rumah saja membuat kita semua mengintrospeksi diri. Saling menjaga orang lain, menjaga diri sendiri, serta menjaga daerah kita, dan juga aset negeri yang kaya. Di rumah saja merupakan kesempatan besar untuk belajar menghargai jiwa manusia, tradisi, budaya, dan karya yang dilahirkan.

Salah satunya budaya baca yang harus tetap dijalankan.  Buku yang kamu baca harus lebih banyak dibandingkan 2019. Karya yang kamu tulis harus lebih produktif. Kalau tahun ini kamu belum punya buku, maka 2021 harus menyiapkan buku. Menyusun buku bukan sekadar untuk kebanggaan saja. Tetapi juga sumber pengetahuan bagi generasi di kotamu. Di tengah pandemi, pemerintah Kota Batu juga harus rajin menulis. Setidaknya menulis buku sejarah kota. Banyak sebenarnya sejarah di Kota Batu yang perlu dikulik lebih dalam. Pemerintah harus bisa hadir dan mau mendanai menulis sejarah kota.  Jangan sampai pejabat dan wakil rakyat di sini banyak yang tuna sejarah. Jangan sampai pejabat dan wakil rakyat bekerja untuk kepentingan mereka dan kelompoknya sendiri. Bahkan jangan sampai pula pejabat dan wakil pejabat tak pernah memikirkan kepentingan generasi mendatang. Bukalah kesempatan bagi mereka untuk menulis sejarahnya sendiri. Sudah saatnya sejarah kembali ke asalnya. Bukan lagi monopoli dari pusat. Begitu juga penerbit buku. Bukan hanya monopoli dari Jakarta, Bandung dan Jogjakarta saja. Tapi lokal harus berani untuk menerbitkan sendiri.

Di Magelang Jawa Tengah pernah ada penerbit yang melakukan ‘perlawanan’ terhadap pusat. Ada penerbit Indonesia Tera. Ratusan buku diterbitkan. Penggagasnya sastrawan Dorothea Rosa Herliany. Tapi, ya itu, Indonesia Tera hingga kini juga napasnya tersengal-sengal. Masih kalah dengan penerbit besar yang sudah memiliki jaringan distribusi buku yang luas. Mungkin ini menjadi catatan bagi penerbit lokal yang ingin eksis. Selain peran pemerintah, masyarakat juga harus memulai untuk melakukan riset-riset untuk membongkar sejarah di kotanya sendiri, juga Kota Batu. Masyarakat juga harus mulai mengulik-ngulik sejarah dan tradisi di sekitarnya. Ya, setidaknya sejarah desanya sendiri. Jika masih kesulitan, ajak kawan-kawan rumah atau sekolah untuk bikin projek sejarah.

Nanti, jika pandemi usai, mari menuju sekolah yang bukan lagi tempat pemaksaan bagi siswa untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka suka. sekolah sudah selayaknya mengajak siswanya untuk turut aktif mengetahui sejarah kotanya. Jadikan sekolah sebagai ruang paling khusyuk untuk menelusuri jejak-jejak nenek moyang terdahulu. Jadikan sekolah sebagai laboratorium menapaki sejarah yang belum terkuak, semenarik mungkin. Kenalkan dan ajari mereka untuk terus berkarya dan setidaknya membaca sejarah.

Tentu pesan ini tidak hanya untuk mereka, pejabat pemerintah, tetapi masyarakatnya juga. Bukan pula untuk masyarakat berpotensi Kota Batu saja, tetapi seluruh pelosok Indonesia. Baik pemerintah, masyarakat, siswa, guru, sejarawan, orang tua, seniman, serta profesi lainnya. Sekali lagi, tentu ini bahan introspeksi diri. Introspeksi diri yang tidak sendiri, tetapi bersama-bersama. Bukankah menyenangkan dan mengasyikkan bila saling menuju ke arah yang lebih baik bersama-sama?

 

Oleh Rosihan A.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: pixabay.com

 

 

Leave a Reply