Nothing lasts forever. Tak terkecuali primadona Swiss Kecil yang satu ini. Pernah menapaki puncak kejayaannya, kini seakan ia tengah merangkak untuk bangkit dari jatuhnya. Iya, ia di sini merujuk pada industri apel di Kota Batu. Pasalnya, ia dirasa tak lagi menarik dan semakin berkurang dalam kualitas.

Industri apel di Kota Batu dimulai pada tahun 1930-an. Lagi-lagi, orang Belanda yang mengambil peran. Mereka membawa pohon apel untuk ditanam di Kota Batu karena dilihat dari iklim yang sejuk serta tanah yang subur, mereka yakin cocok bagi buah apel untuk berkembang. Kota Batu pun mulai tumbuh sebagai kawasan hunian seiring masuknya perkebunan kolonial pada pretengahan abad ke-19 di Jawa Timur.

Kota Batu adalah kota yang terkenal di industri apel dan industri ini dikategorikan sebagai industri yang sangat berhasil, sehingga menjadi primadona juga maskot Kota Batu pada masanya. Keberhasilan ini juga dikarenakan geografis Kota Batu yang cocok dan pas untuk tumbuh kembang buah apel, yaitu iklim yang sejuk dengan suhu antara 16˚C hingga 27˚C dan kelembaban hingga 75% sampai 85%.

Berdasarkan keberhasilan yang diraih, Kota Batu memberikan turis kesempatan untuk melihat bermacam-macam proses di industri apel. Mereka bisa mendapatkan pengalaman dengan ikut andil dalam proses memetik apel di kebun. Hal ini menjadi salah satu daya tarik wisatanya, wisata petik buah. Saking jempolnya buah apel Kota Batu saat itu, membuat Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (pada masa jabatan) menyatakan di muka umum bahwa apel Kota Batu adalah buah yang sangat hebat, bersaing dengan buah apel dari seluruh dunia.

Namun kini semua tinggal kenangan. Percaya lah, apel Batu yang sekarang kita lihat di pinggir jalan, atau di swalayan oleh-oleh, atau bahkan di kebunnya langsung, dulu pernah berukuran jauh lebih besar. Kualitasnya pun jauh lebih baik dari yang sekarang ramai di pasaran. Menurunnya kualitas yang juga berdampak pada kuantitas ini tentu memiliki faktor yang menyebabkan hal tersebut. Sebenarnya ada banyak masalah dalam industri apel dan masalah itu menyebabkan industri apel Kota Batu dapat dikatakan tak lagi sejaya dulu. Baik dari kualitas maupun kuantitas, industri apel tak dapat bersaing lagi. Ada kekurangan kemantapan dengan petanian yang selama ini ditekuni.

Pada tahun 1970-an, banyak pohon apel ditanam di Batu. Dinas Pertanian bersama pemerintah Indonesia mengusulkan kepada petani bahwa industri memerlukan lebih banyak pohon. Pada saat itu, petani apel menanam empat jenis utama, yaitu Rome Beauty, Manalagi, Anna, dan Wanglin. Hal ini menyebabkan di masa sekarang, terdapat pohon apel yang sudah terlalu tua dan tak lagi produktif (yang berumur lebih dari 25 tahun) di Kota Batu. Kebanyakan pohon itu masih ada hingga sekarang dan menjadi pohon tua yang tak tepatguna. Pohon itu memerlukan sebanyak pupuk, air dan kimia dengan pohon muda. Namun pohon tua tidak menghasilkan buah secara efisien. Banyaknya pohon apel yang tua itu tentu juga memotong ruang lahan bagi tanaman lainnya.

Dulu pemikiran akan masa depan tak terlintas. Pemerintah, Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata pun tidak memberi kebijakan yang pas untuk para kaum petani. Akibatnya, banyak pohon saat itu ditanam sembarangan dan di tempat-tempat yang kurang sesuai bagi tanaman apel untuk tumbuh dan berkembang. Terlalu banyak pohon apel tua di kota Batu dan para petaninya pun tak punya cukup uang untuk mengganti pohon-pohon tersebut, apalagi memindahkannya sendiri, dikarenakan penanaman yang sembrono, menyebabkan mesin modern pertanian tidak dapat mengakses pohon-pohon yang seharusnya dapat diganti.

Tak hanya itu, pada tahun 1994, pemerintah Indonesia memutuskan menjadi anggota World Trade Organization (WTO). Akibatnya, pasar Indonesia dibuka untuk dan juga dari negara lain. Hal ini menyebabkan pasar buah Indonesia saat itu dibanjiri oleh apel yang berasal dari negara lain yang memiliki apel dengan kualitas yang jauh lebih baik yakni Amerika Serikat, Jepang, Australia, Cina dan Selandia Baru. Apel Kota Batu pun menjadi kalah saing dengan apel impor.

Ada lagi yang menjadi faktor ‘punah’nya industri apel di Kota Batu. Selain banyaknya pohon tua dan bergabungnya Indonesia dalam WTO, pengaruh yang paling dirasakan ialah iklim yang berubah. Dengan pariwisata yang digemborkan, membuat pembangunan vila-vila dan destinasi wisata buatan pun melonjak. Lahan-lahan hijau dirombak jadi perhotelan. Hal ini dapat menyebabkan global warming, yang juga berpengaruh dengan iklim di Kota Batu, yang dulu sejuk bukan main, sekarang tak lagi sama.

Dengan itu semua, pemerintah pun tak tinggal diam. Pada tahun 2016, bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pemerintah Kota Batu mulai merealisasi kerjasama perbaikan kualitas buah Apel Kota Batu.

“Untuk memulihkan buah apel kembali berukuran besar dan menarik maka tanaman apel harus dikembalikan seperti induk awal,” kata Unggul Priyanto, Ketua BPPT, saat melakukan kunjungan ke Kota Batu, Selasa (13/12/2016) kepada Surya Malang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh David M. Cook, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk industri apel di masa depan, di antaranya ialah dari peran pemerintah untuk mencarikan pasar ekspor bagi apel Kota Batu, baik yang mentahan atau pun olahan, serta memberikan pelatihan bagi buruh tani mengenai budidaya apel. Dukungan pemerintah tentu akan sangat mempengaruhi industri apel Kota Batu di masa yang akan datang. Tak hanya pemerintah, namun kamu juga bisa berperan dalam menyelamatkan industri ini. Caranya dengan promosi produk-produk hasil budidaya apel Kota Batu. Kita berbudidaya, juga berbudaya! Yuk, tidak boleh kalah! Produk lokal harus menjadi bekal Indonesia yang kekal!

Oleh Adinda S.

Editor: Adelia S.

Sumber foto: Medium.com

 

Leave a Reply