Rasanya belum pas bila hamparan sawah, barisan bukit, serta gunung yang megah tak dibarengi dengan adanya tempat untuk bersinggah sejenak menikmati pemandangan yang indah. Ya, yang dimaksud ialah tempat penginapan atau hotel. Apalagi di zaman yang canggih ini kita sudah mengenal fenomena berlibur harus menginap. Tak menginap, tak milenial. Staycation panggilannya. Kali ini Tim Dibalikbatu akan menelusuri fenomena ini. Namun, kita telusuri dahulu perkembangan industri penginapan di Kota Batu!

Berbicara mengenai industri penginapan Kota Batu, hingga sekarang masih dan terus berkembang. Dibuktikan dengan keberadaan vila yang makin merajalela. Pada jurnal yang diunggah Rahardiyan Ari Wicahyo, mahasiswa UB, Prodi Arsitektur, menyebutkan jumlah hotel bintang di Kota Batu hingga sekarang berkembang mengikuti perkembangan pariwisatanya. Konsep hotel-hotel yang ada di Kota Batu sangat beragam dengan masing-masing spesifikasi konsep dan fasilitas yang ditawarkan, sebagai contoh Kusuma Agrowisata Hotel memiliki konsep hunian akomodasi yang terintregasi dengan Wahana Wisata Agro.

Selain itu, pada data resmi publikasi statistik penginapan di Kota Batu oleh Badan Pusat Statistik Kota Batu 2018, tercatat jumlah hotel dan usaha akomodasi lainnya yang ada di Kota Batu hingga tahun 2017 berkembang sebanyak 967 unit. Dari sejumlah hotel yang ada terdapat hotel bintang sebanyak 14 hotel, sedangkan hotel non bintang sebanyak 953 hotel. Perlu diketahui, penyebaran hotel atau akomodasi per kecamatan di Kota Batu tidak merata. Letak hotel terfokus pada Kecamatan Batu terutama di wilayah Songgoriti dan di Kecamatan Bumiaji di Desa Punten. Dapat dimaklumi karena pada daerah-daerah tersebut merupakan kawasan wisata yang mempunyai objek wisata cukup terkenal yaitu kawasan objek Wisata Songgoriti dan Taman Rekreasi Selekta. Ada pun vila-vila atau dikenal dengan rumah sewa yang dijadikan tempat peristirahatan selama berwisata dan paling banyak berada di wisata Songgoriti.

Jika ditelisik lebih dalam, perkembangan industri dan pariwisata ternyata tidak sekadar meningkatkan ekonomi dan sumber daya, namun juga mempengaruhi pemilihan gaya hidup dan perubahan sosial. Pada Jurnal Kepariwisataan dan Hospitalitas oleh Nyoman Urbanus dan Febianti mengenai Analisis Dampak Perkembangan Pariwisata Terhadap Perilaku Konsumtif Wilayah Bali Selatan, menyebutkan dengan tumbuh dan berkembangnya pusat-pusat perbelanjaan modern, penginapan hotel, maupun produk makanan minuman, dapat mempengaruhi perilaku konsumtif masyarakat untuk pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli barang-barang bukan atas kebutuhun, melainkan keinginan. Hal tersebut tentu menerjemahkan fenomena berlibur dan berwisata harus menginap di hotel berbintang atau non hotel berbintang. Secara tidak langsung, fenomena berkembangnya industri penginapan juga sangat berpengaruh pada gaya hidup modern dan perilaku konsumtif ketika berwisata.

Fenomena staycation. Rasanya sangat pas jika dipasangkan dengan perilaku gaya hidup. Fenomena ini juga sedang digandrungi milenial kita. Katanya, tak milenial kalau tak menginap. Berlibur sembari memanjakan diri, itulah konsep fenomena ini. Menurut data dari lembaga non-profit AARP Travel Research, hampir setengah generasi milenial, 49% memiliki rencana liburan domestik, entah itu dengan liburan keluarga, liburan musim panas, atau hanya sekedar ‘staycation’ dan melakukan liburan singkat di akhir pekan tanpa harus bepergian ke tempat jauh. Tren ini didukung juga dengan semakin tingginya variasi hotel dan penginapan yang menawarkan fasilitas lengkap untuk memanjakan para wisatawan.

Tak melulu harus ke luar kota atau luar negeri, liburan juga dapat dilakukan di dalam kota. Itulah maksud dari staycation pula. Sekadar melepas penat atau merawat kesehatan mental, rohani, dan jasmani. Tentunya, dengan budget yang tipis dan dapat dijangkau. Di Kota Batu pun banyak wisatawan yang melakukan staycation. Nila Margi Jihanni, mahasiswa yang kerap kali bisnis promosi vila staycation di Kota Batu menuturkan banyaknya vila di Kota Batu mendukung fenomena milenial ini. Lokasi yang strategis dan pemandangan yang bagus menjadikan Kota Batu semakin menarik dengan industri penginapan yang berkembang.

“Saya juga suka melakukan staycation. Apalagi di Batu suasananya mendukung. Cocok untuk staycation dengan keluarga, atau bahkan teman,” tutur mahasiswa Hukum UMM tersebut.

 

Perlu diingat, refreshing itu perlu untuk setiap insan manusia. Staycation misalnya, bisa jadi pilihan yang sempurna buat mobilitas tinggi yang tak mereda. Liburan akan lebih mengasyikkan dan stress-free tanpa ribet merencanakan itinerary untuk ke luar negeri. Oh ya, kalau berminat staycation, Kota Batu bisa menjadi tujuan selanjutnya!

Oleh Devi N.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: asiaone.com

Leave a Reply