Kita familiar dengan The City That Never Sleeps, Kota New York. Kota yang merupakan bagian dari Amerika Serikat tersebut sering kali dijuluki Kota Tak Pernah Tidur dan merupakan kota terpadat di Amerika Serikat. Tapi jangan salah, Kota Batu juga punya ikon yang tak pernah tidur pula. Alun-alun kota yang terletak di tiga jalan utama yakni Jalan Sudiro, Jalan Munif, dan Jalan Diponegoro ini seakan tak pernah sepi oleh lalu lalang kendaraan dan jamahan pengunjung, baik lokal maupun regional.

Alun-alun Kota Batu memang tampak indah, terlebih pada malam hari. Dari jauh, lampu kerlap-kerlip dari bianglala yang menjulang tinggi seakan mengundang kita untuk melangkah lebih dekat. Hanya dengan Rp 5.000,00 saja, keindahan Kota Batu dapat dinikmati dari ketinggian. Pukul enam petang, loket mulai dibuka. Sebanyak 17 kabin warna-warni pun siap memberikan pengalaman pengunjung bak di atas awan, menikmati indahnya pemandangan Kota Batu di malam hari.

Tak hanya bianglala yang mengundang, air mancur dengan ornamen apel hijau dan merah yang terletak di tengah alun-alun ikut menambah aksen manis terhadap pusat Kota Batu ini, bagaikan buah ceri di atas sepotong kue. Masih berbicara tentang air mancur, alun-alun Kota Batu juga menyediakan spot air mancur menari yang menjadi daya tarik lainnya. Dengan debit air yang tak begitu besar, pengunjung aman bermain air di kawasan ini.

Di balik keindahan panoramanya, ada goresan sejarah yang membekas di setiap batu bata yang membangun Alun-alun Kota Batu. Awalnya, alun-alun ini dibangun sebagai taman perkantoran pada zaman peradaban Hindia-Belanda, sekitar empat-lima abad yang lalu. Abad ke-20, tepatnya pada tahun 1942, alun-alun resmi menjadi milik Kota Batu yang diberi nama Taman Tari. Sekitar 30 tahun setelah peresmian, monumen air mancur dengan apel raksasa di atasnya dibangun tepat di tengah alun-alun. Hal ini dikarenakan Kota Batu pada saat itu merupakan kota dengan petani apel terbanyak di Indonesia, jadi lah apel sebagai maskot Kota Batu. Pada tahun 2002 silam, alun-alun direnovasi dan dikembangkan menjadi taman seribu bunga. Ornamen-ornamen hewan lainnya seperti sapi dan kelinci (yang juga merupakan khas Kota Batu) pun menyusul untuk dibangun seiring dengan perkembangan sektor wisata Kota Batu oleh pemerintah.

“Iya, saya sudah lama tinggal di Batu, banyak yang berubah, jadi lebih bagus, lebih rame juga,” ujar Kevin, warga asli Batu.

Saat ini, wisata Alun-alun Kota Batu selalu ramai tak hanya oleh pengunjung, namun juga pedagang-pedagang kuliner. Banyaknya pedagang makanan baik kaki lima maupun di ruko-ruko yang berjejer di sekitarnya membuat alun-alun ini juga menjadi destinasi wisata kuliner. Mulai dari yang manis hingga yang gurih, dari sempol hingga bakso, serta dari susu hingga eskrim Turki, semua tersedia di Alun-alun Kota Batu. Harga yang ditawarkan pun beragam, dari sekitar Rp 500,00 untuk satu tusuk sempol, hingga sekitar Rp 25.000,00 ­– Rp 35.000,00 untuk makanan beratnya.

“Yang saya senengi dari Alun-alun Kota Batu itu jajanannya, apalagi ketan legendanya. Terus banyak spot-spot foto yang Instagrammable, jadi seneng aja gitu ke alun-alun,” ujar Nila, mahasiswi asli Situbondo yang merantau ke Malang.

Memang ada banyak pedagang makanan yang memenuhi setiap meter di sekeliling alun-alun, namun tidak hanya pedagang makanan, pedagang aksesoris juga banyak menjajakan barangnya di sekitar alun-alun. Mulai dari gantungan kunci, perhiasan, bunga mawar, hingga konveksi pakaian khas Kota Batu tampak berjejer di beberapap titik di sepanjang tiga jalan utama Alun-alun Kota Batu. Pusat perbelanjaan juga dapat dijumpai tak jauh dari pusat alun-alun, Plaza Batu namanya.

Hingga saat ini, Alun-alun Kota Batu telah memegang dua rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yaitu sebagai tempat umum pertama yang bebas asap rokok dan pedagang asongan, serta alun-alun dengan wahana permainan terbanyak, yaitu sebanyak 38 wahana.Tak hanya sebagai apresiasi, hal ini tentu menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus  membangun Kota Batu, bukan hanya di sektor pariwisata, namun juga sektor lainnya yang dapat menunjang pembangunan Kota Batu. Warga pun juga dapat berkontribusi dalam hal ini. Aspirasi didengar, inovasi dikejar. Semua bisa ikut andil dalam pembangunan Swiss Kecil ini.

Lihat kumpulan foto disini

Oleh Devi A.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: Ilham Teguh

Leave a Reply