Kita tahu betul bahwa bukan hanya Belanda yang sempat menancapkan tombak benderanya di Tanah Air Indonesia. Jepang pun pernah melakukan hal yang sama. Berbeda dengan koloni Belanda yang menjajah Indonesia hingga berabad-abad, Jepang menjajah Indonesia hanya kurang lebih tiga setengah tahun. Namun, peninggalannya masih dapat terasa hingga sekarang, hampir di seluruh pelosok Indonesia, tak terkecuali Kota Batu.

Ya, Kota Batu juga pernah terjamah oleh tentara Jepang pada 1942 hingga 1945. Kedatangan Jepang ke Kota Batu dapat dilihat dari peninggalan-peninggalannya selama menjajah di Swiss Kecil itu. Salah satunya ialah gua-gua yang sering disebut dengan gua Jepang. Memang sedikit berbeda dengan Belanda yang mendirikan bangunan-bangunan kokoh menjulang ke atas untuk berteduh, tentara Jepang menggali dalam-dalam ke bawah untuk berlindung.

Pada zaman penjajahan Jepang tersebut, pasukan Nippon banyak membuat lubang gua di sekitar lereng gunung. Keberadaan gua Jepang di Batu menurut warga sekitar digunakan oleh kompeni Jepang sebagai tempat persembunyian. Baik itu untuk persembunyian senjata, makanan, atau dari sekutu, gua tersebut ialah andalan para tentara Jepang. Gua yang mereka gunakan untuk persembunyian ada yang secara alami telah terbentuk dan ada juga yang buatan. Untuk gua yang buatan, tentara Jepang memanfaatkan tenaga dan jerih payah warga pribumi untuk menggali dan menggali gua. Kegiatan ini merupakan salah satu sistem agenda Jepang di Indonesia yaitu kerja paksa atau yang lebih dikenal dengan Romusa. Pekerja-pekerja romusa diutus dari luar Kota Batu yakni dari Bondowoso, Lumajang, Mojokerto yang berjumlah ribuan orang. Tak jarang, nyawa mereka pun ikut tertimbun dalam proses pembuatan gua-gua ini.

Di Batu sendiri, terdapat sejumlah gua Jepang yang masih berbekas di lereng-lereng gunung. Tujuh di antaranya berada di kawasan Hutan Torong, Songgoriti, Songgokerto. Arkeolog pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Nugroho Harjo Lukito, kepada ngalam.co menyebutkan bahwa gua-gua tersebut merupakan tempat tentara-tentara Jepang menyembunyikan senjata, pakaian, dan persediaan makanan mereka. Terdapat enam lubang gua yang diperkirakan ada di lokasi Songgokerto itu. Mulut keenam gua itu berjejer dalam satu kontur tanah di salah satu perbukitan milik Perhutani. Namun sayang, mulut gua kini sudah tak tampak lagi dan yang terlihat hanya bebatuan besar dan semak belukar menutupi lubang gua.

“Supaya lebih terlihat lagi harus dilakukan pengupasan. Mulut gua harus kelihatan,” ujar Nugroho kepada ngalam.co saat meninjau gua tersebut (12/10/2017).

Gua-gua Jepang tersebut pun belum terjamah oleh wisatawan lokal maupun mancanegara karena memang belum dijadikan kawasan wisata. Walau memiliki potensi, namun proses yang panjang tentu diperlukan, mengingat gua Jepang tersebut masuk dalam kawasan BUMN Perum Perhutani.

“Ya, Songgoriti punya obyek wisata sejarah, yakni gua Jepang yang hingga saat ini belum tersentuh. Jika itu dikelola secara maksimal, saya yakin akan banyak menyedot wisatawan,” tutur Dian Saraswati, Lurah Songgokerto kepada bangsaonline.com (19/01/2020).

Tak hanya di kawasan Songgoriti, ada juga gua Jepang di daerah Coban Talun, tepatnya di Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Gua Jepang yang satu ini sekarang menjadi salah satu destinasi wisata Kota Batu. Gua ini memiliki kedalaman hingga sepuluh meter, dengan vibe yang masih alami di mana tanahnya bisa mengeluarkan sumber mata air. Di depan Goa pengunjung disuguhkan dengan pemandangan taman bunga warna-warni, hutan dan pepohonan, juga aliran air Sungai Brantas.

Ada lagi gua peninggalan Jepang di Swiss Kecil ini. Gua Jepang selanjutnya berada di kawasan Cangar. Terdapat dua yang bisa kita jamah di kawasan ini, satu di dalam tempat wisata Cangar dan satu lagi terletak beberapa puluh meter dari tempat wisata. Kedua gua tersebut dapat ditempuh melalui jalan setapak di tepi jurang yang cukup landai dan berbahaya. Lalu ada gua Jepang yang terletak di Desa Tlekung. Konon, ketika perang, gua yang satu ini dijaga oleh para tentara Jepang kenil. Mereka adalah orang Indonesia atau pribumi yang membela dan mendukung Jepang, sehingga diangkat menjadi kawanan tentara Jepang.

Di dalam gua Jepang yang satu ini terdapat tujuh jalur. Jika ingin menelusuri trek tersebut, maka diperlukan seorang pemandu agar tak tersesat dan hilang. Dulu, saat tentara Jepang hendak menyembunyikan persediaan makanan dan senjata di dalam gua ini, suara sirine akan melengking dan warga-warga berbondong masuk dan sembunyi dalam rumah mereka masing-masing. Sirine tersebut merupakan salah satu bentuk propaganda Jepang di Kota Batu, di mana mereka menyebarkan isu bahwa jika ada sirine, tandanya ada koloni Belanda yang menyerbu. Sekarang, gua ini dijadikan sebagai tempat peristirahatan atau berteduh para penguji adrenalin, yaitu pengemudi motor trail.

Tadi itu hanya beberapa peninggalan Jepang di Kota Batu berupa gua-gua persembunyian. Sayang, hanya sedikit yang dikelola menjadi pusat destinasi wisata. Kebanyakan adalah karena beberapa merupakan aset Pemerintah Kabupaten Malang dan masuk ke dalam kawasan wewenang yang dipegang oleh Perhutani.

“Sebenarnya warga ingin membenahi aset-aset wisata di wilayah ini. Namun, warga terganjal oleh kepemilikan aset wisata tersebut yang merupakan aset Pemkab Malang,” aku Dian lagi kepada bangsaonline.com (19/01/2020).

Memang kejam apa yang Jepang perbuat terhadap para pekerja paksa pribumi Indonesia. Memaksa mereka bekerja siang dan malam, tanpa ada upah, lalu disiksa kemudian. Namun, jika kita hanya terus bersedih pun tak akan mengembalikan arwah dan merubah sejarah. Walau begitu, ada yang bisa kita lakukan dalam rangka mengenang jerih payah para pekerja serta pahlawan Indonesia, yakni dengan melestarikan apa yang mereka tinggalkan. Di Batu, kerja keras para buruh romusa menghasilkan Gua Jepang. Gua Jepang menjadi saksi bisu pengorbanan rakyat Indonesia. Mereka mungkin tak bersama kita lagi, namun jerih payah mereka masih asri di Swiss Kecil ini.

Oleh Adinda S.

Editor Adelia S.

Sumber foto: blogspot.com

Leave a Reply