Van Der Man. Pernahkah kamu mendengar nama ini? Konon, Van Der Man merupakan nama dari seorang pendaki yang sering mendaki salah satu gunung yang ada di Kota Batu. Hingga akhirnya, gunung tersebut dikenal dengan nama Van Der Man yang disebut dengan pengucapan lokal, yaitu Panderman. Iya, Gunung Panderman.

Gunung Panderman merupakan ikon di kota wisata primadona Jawa Timur, Kota Batu. Gunung ini tentu menawarkan berbagai keindahan alam yang bisa kita saksikan dari kejauhan. Siapa sangka, Gunung Panderman yang merupakan gunung dengan tinggi 2.045 mdpl di atas permukaan laut ini tak hanya memiliki cerita misteri seperti mitos Pasar Setan yang pernah diulas oleh Tim Dibalikbatu saja, namun gunung ini juga konon merupakan tempat peradaban awal adanya Kota Batu.

Panderman terletak di ufuk barat Kota Batu, atau lebih spesifiknya terletak di pinggir Dusun Toyomerto, Desa Pesanggarahan, Kecamatan Batu. Menjadi primadona orang Belanda pada masa penjajahan, gunung ini tak pernah gagal dalam menyajikan keindahan alam dari dataran tinggi. Tentu hal ini membuat Gunung Panderman memiliki hawa yang begitu sejuk serta pemandangan yang menakjubkan dari puncaknya sehingga diminati oleh wisatawan juga pendaki.

Kota Batu memang dikelilingi oleh banyak gunung. Tak hanya Gunung Panderman, terdapat pula Gunung Kawi dan Gunung Butak. Apabila ketiganya disatukan, maka akan membentuk siluet putri tidur. Gunung Butak sebagai puncak membentuk kepala, lalu diikuti Gunung Kawi sebagai bagian dada dan juga Gunung Panderman sebagai ujung kaki. Terdapat cerita unik mengenai siluet putri tidur. Salah satu arsitektur terkemuka pada masa kolonial Belanda bernama Herman Thomas Karsten secara detail menjadikan pemandangan siluet putri tidur sebagai landmark Kota Batu.

Dilansir dari penelitian Hardinoto, seorang staf pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, berjudul “Perkembangan Kota Malang Pada Zaman Kolonial (1914-1940)”, Herman Thomas Karsten adalah seorang perencana wilayah pemukiman yang berasal dari Belanda yang kebetulan mendapatkan tugas sebagai penasihat perencanaan Kota Malang pada tahun 1929 sampai 1935. Salah satu isi pemikiran dari konsep Karsten dalam perencanaan kota Malang adalah dengan memanfaatkan gunung-gunung yang ada disekeliling kotanya serta lembah Sungai Brantas yang membelah kota. Akhirnya ia membuat jalan di Kota Malang yang dinikmati khusus bagi orang Belanda.

Jauh sebelum kedatangan Herman Thomas Karsten, atau sekitar seabad yang lalu, Gunung Panderman juga menyisihkan cerita lain. Dilansir dari situsbudaya.id, Gunung Panderman pernah menjadi area persembunyian Kyai Ubung Angin atau lebih dikenal Abu Ghonaim yang merupakan salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Abu Ghonaim lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Mbah Wastu, dikarenakan orang Jawa suka sekali mempersingkat penamaan, sebab nama Mbah Wastu dirasa terlalu panjang. Akhirnya, mereka lebih mengenal Mbah Wastu dengan Mbah Tu (Mbatu). Konon, begitulah cerita di balik penamaan Kota Batu.

Pada masa penjajahan tentara Kolonial Belanda, Abu Ghonaim melarikan diri dengan pengikutnya hingga sampai ke lereng Gunung Panderman untuk menghindari serangan dari kompeni dan merencanakan strategi perang gerilya. Perang berakhir sekitar tahun 1830 dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro, sehingga membuat Abu Ghonaim bersemayam di lereng Gunung Panderman.

Dikutip dari buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe (2013) karya H.M. Zaenuddin, selama berada di kaki Gunung Panderman, Mbah Wastu (Abu Ghonaim) berhasil menyatukan masyarakat yang terpisah-pisah dalam berbagai wilayah kemudian menyatu di lereng Gunung Panderman. Setelah Mbah Wastu wafat, kini wilayahnya dikenal dengan sebutan Batu.

Dalam bukunya tersebut, H. M. Zaenuddin juga mengatakan bahwa wilayah Batu sebenarnya sudah diketahui sejak abad ke-10 M atau pada zaman Kerajaan Medang. Kerajaan Medang merupakan bagian dari Dinasti Mataram Kuno. Dahulu, Raja Medang memerintahkan Mpu Supo untuk mencari lokasi yang cocok digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Akhirnya, Mpu Supo menemukan Desa Songgokerto di Batu sebagai tempat peristirahatan. Kini lokasi tersebut menjadi obyek wisata Candi Supo atau lebih dikenal dengan Candi Songgoriti di area tersebut.

Hm, begitulah cerita peradaban awal Kota Batu. Banyak kisah mengenai awal adanya peradaban masyarakat di Kota Batu dari Gunung Panderman. Mulai dari yang ditemukan Mpu Supo, atau persembunyian Mbah Wastu yang berhasil menyatukan warga Kota Batu, hingga sosok arsitek handal, Herman Thomas Karsten yang terinspirasi membuat jalan dengan pemandangan gunung ikonik satu ini.  Tak diragukan lagi, Gunung Panderman memang memiliki sejarah dan dampak yang besar dalam asal mula peradaban Kota Batu. Terlepas dari siapa penemu peradaban Swiss Kecil ini, Kota Batu dari dulu hingga sekarang tetap menjadi primadona di hati warga dan pengunjungnya.

 

Oleh Adinda S.

Editor: Rosihan A.

Sumber foto: Wikipedia

Leave a Reply