Apa yang kamu bayangkan ketika mengunyah sate kelinci? Terdengar tega, tapi banyak yang bilang kuliner yang satu ini ternyata tak kalah nikmat. Pernah nggak terlintas di pikiran kamu, mengapa Kota Batu terdapat banyak kuliner sate kelinci? Ketika kamu mengendarai sepeda motor atau mobil, warung kuliner sate kelinci tampak berjajar di sepanjang jalan. Berbicara mengenai sate kelinci dan Kota Batu, yuk kita lihat potensi peternakan kelinci di Kota Batu!

Potensi peternakan di Kota Batu layak menjadi prioritas kedua setelah pertanian. Dilansir dari TimesIndonesia, begitu banyak masyarakat serta peternak dari daerah tetangga yang hidupnya bergantung pada produksi ternak dan pakan di Kota Batu. Hal ini tentu diperkuat dengan statement dari Wakil Walikota Kota Batu, Punjul Santoso. Ia mengatakan secara geografis, Kota Batu memiliki potensi yang besar untuk pengembangan peternakan, tidak hanya pertanian. Menurut Punjul, peternakan memiliki peran yang penting sebagai penyedia pangan terutama terkait protein hewani. Selain itu, dapat berdampak positif juga bagi perekonomian, seperti membantu sumber pendapatan maupun kesempatan kerja untuk mengurangi tingkat kemiskinan.

Tak dapat dipungkiri, potensi peternakan kelinci memang cukup meyakinkan di Kota Batu. Hal ini dilihat dari jumlah populasi ternak kecil dan kelinci yang ada di Kota Batu sendiri. Pada tahun 2010, populasi ternak kelinci memiliki jumlah paling besar yaitu 21.966 ekor, lalu diikuti dengan jumlah unggas, yaitu 19.180 ekor. Hingga pada tahun 2016, populasi ternak kelinci di Kota Batu berjumlah 25.148 ekor. Di Kecamatan Batu terdapat 4.085 ekor, di Kecamatan Junrejo terdapat 3.655 ekor, dan Kecamatan Bumiaji terdapat 17.408 ekor. Dituturkan oleh Eddy Rumpoko kepada Merdeka.com, Walikota Kota Batu periode II, ternak kelinci memiliki peran dalam pertanian organik Kota Batu. Selain unik dalam budaya pertanian, Kota Batu juga harus bersinergi dan menarik di peternakan.

Penasaran nggak sih, daging kelinci di kuliner sate kelinci didapat dari mana? Dusun Prambatan salah satunya. Dusun yang terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu adalah penghasil kelinci yang cukup besar. Potensi kelinci di desa tersebut sangat baik dan memiliki populasi yang besar, serta manajemen peternakan kelinci yang teratur. Pemeliharan kelinci di peternakan Dusun Prambatan dilakukan secara intensif. Peternakan ini tidak hanya menjual kelinci hidup atau berupa daging saja, melainkan ingin mengembangkan pada pengolahan produk akhir. Misalnya saja daging kelinci yang dapat dibuat seperti abon kelinci, nugget kelinci, sosis kelinci atau jenis-jenis makanan lain yang berbahan daging kelinci.

Lalu, mengapa sih Kota Batu banyak akan peternakan kelinci? Jika ditelisik dari temperature ideal kelinci, kisaran suhu 15.5 – 18.3°C diketahui sebagai suhu “comfort zone” bagi kelinci. Kelinci adalah hewan yang tahan pada cekaman suhu dingin dibanding suhu panas, seperti di daerah tropis yang memiliki suhu udara relatif lebih tinggi. Kelinci domestik perlu lingkungan yang diatur agar dapat melindunginya dari panas atau hipotermia. Kelinci dapat dipelihara pada suhu optimum 21°C, sedangkan pada suhu 25-30°C dapat menyebabkan stres pada kelinci. Selain itu, dilengkapi pula pada hasil penelitian Qisthon (2012) bahwa kelinci akan mengalami stress apabila hidup pada suhu lingkungan lebih dari 28-30°C. Penelitian Qiathon tersebut tertulis dalam Thesis Universitas Padjajaran.

Sebagai hewan yang sangat peka akan suhu lingkungan, ketika suhu lingkungan melebihi zona tubuh, maka kelinci cenderung akan mengurangi konsumsi dan memperbanyak minum, sedangkan ketika suhu lingkungan berada di bawah zona nyaman bagi kelinci, maka kelinci cenderung memperbanyak konsumsi pakan untuk dapat mempertahankan suhu tubuhnya. Jika ditinjau dari suhunya, maka Kota Batu sangat cocok bagi kelinci, yaitu suhu minimum sekitar 17,6˚C sampai dengan 21,9˚C. Sedangkan suhu maksimum sekitar 25,5 ˚C hingga 29,5 ˚C.

Dibenarkan oleh Didik Supriadi, salah satu peternak kelinci di peternakan Fauna Jaya Kota Batu, bahwa suhu Kota Batu memang mendukung untuk berternak kelinci. Ia juga menjelaskan lahan ternak kelinci harus terus mengikuti perkembangan kapasitas dari ternak itu sendiri. Selain itu, kebersihan lingkungan harus tetap terjaga.

“Berternak kelinci memang sangat menjanjikan di Kota Batu. Untuk menunjang kesehatan kelinci, kebersihan lingkungan dan gizi juga harus terjaga,” ujar Didik sebagai peternak kelinci sejak tahun 1998.

Amelia Nuklis, mahasiswa Universitas Brawijaya Program Studi Agroekoteknologi mengatakan kuliner kelinci dapat meningkatkan vitalitas dan peluan tersendiri bagi warga Kota Batu karena daerah batu memiliki suhu dingin dan memiliki banyak vila. Selain dari adaptasi lingkungan Kota Batu yang cocok terhadap kelinci, Amel menambahkan peternakan kelinci juga merupakan daya tarik wisata, contohnya seperti pada perjalanan ke Paralayang yang banyak ditemui sate kelinci dan tempat wisata, yaitu Taman Kelinci dan Rumah Hobbit.

“Kehadiran kelinci bisa jadi karena adaptasi lingkungan. Selain bagi peternakan, kelinci juga dapat meningkatkan vitalitas Kota Batu dari segi wisatanya,” jelas Amel, mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Jika berbicara mengenai potensi Kota Batu memang tak ada habisnya. Selain mengulas perfilman Kota Batu, pertanian Kota Batu, kebun dan produksi buah, legenda, serta mitos, kali ini Tim Dibalikbatu mengulas mengenai kelinci Kota Batu ditinjau dari potensi peternakannya. Masih banyak hal-hal lain di balik Kota Batu. Memang benar kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Jika ingin mengenal Kota Batu lebih jauh, berkunjung dan berkelanalah!

Oleh Adelia S.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: kelincipedia.com

 

Leave a Reply