Setiap orang di muka bumi pasti memiliki kepercayaan akan sesuatu. Baik itu terhadap Tuhan dan hal gaib lainnya, atau bahkan terhadap skala yang lebih kecil dan sempit, dirinya sendiri. Memiliki kepercayaan adalah esensi manusia. Tak bisa dielak, kepercayaan akan suatu hal lah yang membuat kita terus ‘berjalan’.

Berbicara tentang kepercayaan, yang paling melekat dengan kata tersebut ialah Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah esensi negara kita. Hal ini seperti yang tertera dalam ideologi bangsa, Pancasila pada sila pertamanya.

Indonesia adalah negara yang tinggi akan toleransi, memberikan kebebasan rakyatnya untuk memilih kepercayaan mereka sendiri. Tak ada paksaan sama sekali. Rakyat bisa memilih satu dari enam kepercayaan yang diakui negara yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, ataupun Konghucu. Walau agama yang diakui negara hingga saat ini ada enam, namun tidak menutup celah bagi kepercayaan-kepercayaan lainnya untuk berkembang di Indonesia. Bahkan, pada 7 November 2017, Mahkamah Konstitusi memutuskan warga negara Indonesia boleh memilih untuk mencantumkan kepercayaannya (Kepercayaan terhadap Tuhan YME) pada Kartu Tanda Penduduknya, melainkan agama. Kepercayaan dan paham lainnya yang lahir di Indonesia ini cenderung merupakan hasil dari asimilasi agama dan budaya.

Di Indonesia, mayoritas masyarakat (87,2% penduduk Indonesia) menganut agama Islam, sedangkan kebudayaan yang dominan ialah kebudayaan Jawa. Walau agama Islam berkembang baik di Indonesia, tidak semua semua orang beribadah menurut agama Islam, akan tetapi mereka beribadah menurut kepercayaan mereka. Hal ini melahirkan kepercayaan di tengah masyarakat yang dikenal dengan aliran Islam kebatinan yakni Islam Kejawaan atau yang lebih dikenal dengan Kejawen.

            Pasca kemerdekaan Indonesia, aliran Kejawen mulai berkembang pesat. Di antara aliran-aliran Kejawen tersebut terdapat aliran Kejawen Sapta Darma yang merupakan pencerminan sinkretisme kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Hindu-Budha juga Islam. Aliran Kejawen yang satu ini lahir di Pare, Kediri, Jawa Timur. Hingga saat ini, banyak penganut atau penghayat Sapta Darma di banyak kota dan kabupaten di Pulau Jawa, tak tertinggal Kota Batu.

Di Swiss Kecil itu, Sapta Darma telah diikuti sebanyak 75 penghayat. Edi Setiawan merupakan salah satunya. Tak hanya itu, Edi juga merupakan warga Indonesia pertama yang mencantumkan kepercayaannya dalam E-KTP (ber-KTP sebagai penghayat).

“Saya mulai ikut sebagai penghayat kepercayaan Sapta Darma sejak tahun 1991. Tentu ada saja yang mengatakan bahwa saya pengikut aliran sesat ataupun yang lainnya. Begitu juga dari keluarga saya,” aku Edi kepada Malang Post (04/01/2019).

Walau melewati tantangan yang berarti dalam menganut kepercayaannya, Edi tak kunjung putus asa. Ia tetap menegakkan toleransi yang tinggi. Hal ini tercermin dari fakta bahwa dalam satu atap rumah, terdapat perbedaan kepercayaan dalam keluarga Edi, namun mereka semua tampak rukun. Berkat sikap toleransinya yang tinggi, perlahan masyarakat Kota Batu pun mulai menerima kepercayaan yang dianut oleh Edi. Hingga 2019 awal, Dispendukcapil Kota Batu pun telah mendata ada delapan orang yang sudah mengubah kolom kepercayaan menjadi Kepercayaan Terhadap Tuhan YME.

Edi juga melanjutkan bahwa Kota Batu telah mencatat sejarah dengan adanya salah satu anggota ASN (Aparat Sipil Negara) yang menganut aliran Sapta Darma serta mencantumkan kepercayaannya tersebut dalam KTP-nya. Sumpah jabatan anggota ASN tersebut dilakukan secara kerohanian Sapta Darma di Balai Kota Among Tani tanggal 25 April 2015 yang lalu.

“Dari dalam rumah saya bangun toleransi. Dari dalam rumah saya tunjukkan bahwa perbedaan itu indah,” tambah Edi, dikutip dari Malang Post (04/01/2019).

Kebebasan dalam memilih kepercayaan adalah satu dari sekian banyak hak asasi manusia yang tak bisa diganggu gugat. Kota Batu paham betul akan itu. Tak hanya kaya akan sumber daya alam yang potensial, namun sumber daya manusianya pun kaya akan sikap toleransi dan kemanusiaan yang maksimal. Perbedaan memang indah dan toleransi menjadi kunci kerukunan di tengah ragamnya perbedaan.

Semua adalah proses. Dengan kepercayaan teguh yang dipegang serta usaha yang maksimal, kita bisa terus berjalan melewati segala rintangan yang menghadang. Mari kita tingkatkan toleransi dengan saling menghargai dan menghormati. Kita akan merasa  tenang dalam hati jika tak ada rasa benci.

Oleh Farhan R.

Editor: Adinda S.

Sumber foto: IDN Times Jatim

Leave a Reply